Gelar Kuis, Presiden Jokowi Kebingungan Nama Ikan Lokal

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kedatangan pesepakbola tim nasional Egy Maulana Vikri di Istana Merdeka, Jakarta, 23 Maret 2018. Egy menemui Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kedatangan pesepakbola tim nasional Egy Maulana Vikri di Istana Merdeka, Jakarta, 23 Maret 2018. Egy menemui Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Banjarbaru - Presiden Joko Widodo memanggil tiga penerima sertifikat tanah untuk ke panggung di sela penyerahan sertifikat kepada 3.630 orang penerima di GOR Rudy Resnawan, Kota Banjarbaru, Senin 26 Maret 2018. Jokowi memilih Alis, Rismawati, dan Andi untuk menjawab kuis berhadiah sepeda.

    Kepada Alis, Presiden Jokowi menyodorkan pertanyaan lima sila Pancasila dan bertanya nama tujuh suku kepada Rismawati. Adapun soal untuk Andi, Presiden Jokowi bertanya sepuluh nama ikan. Alis sangat fasih menyebutkan lima sila Pancasila. Rismawati sempat salah sebut beberapa nama suku, tapi dipandu Jokowi untuk memudahkan penyebutan suku. “Suku sendiri lupa, apa nama suku di sini?” kata Jokowi. “Banjar,” kata Rismawati.

    Baca: Salat Jumat di Istiqlal, Jokowi: Diingatkan Bapak ...

    Namun, Jokowi kebingungan ketika Andi menjawab soal ikan. “Sebutkan nama sepuluh nama ikan,” ujar Jokowi kepada Andi. Delapan nama ikan yang disebutkan Andi membuat Jokowi kebingungan karena tidak pernah mendengar nama ikan lokal di tanah Banjar.

    “Ikan papuyu,” kata Andi. “ Itu ikan apa? Benar ada?” tanya Jokowi kepada hadirin. Setelah dibenarkan hadirin, Andi kembali menjawab “Ikan sapat.” Lagi-lagi, Presiden Jokowi kebingungan. “Ikan sapat? Apa lagi itu?” Jokowi bertanya lagi. “Ikan haruan,” Andi menjawab lagi. Lantaran tak kenal penamaan ikan lokal di Banjar, Presiden Jokowi bertanya, “Kok saya enggak ada yang tahu semua? Mungkin sengaja ini.” Hadirin pun tertawa lepas merespons pengakuan Jokowi.

    Namun, Jokowi mengenal penyebutan dua nama ikan terakhir. “Ikan patin dan ikan nila,” ujar Andi. “Kalau ini saya tahu. Ya sudah, sepedanya diambil,” kata Jokowi. Andi pun membawa satu unit sepeda pemberian Presiden Jokowi. Menurut Jokowi, sepeda itu yang membuat mahal karena ada tempelan bertuliskan “Hadiah Presiden RI”.

    Baca juga: Ditanya Soal Pakai Kaus, Jokowi: Masak ke ...

    Presiden mengatakan pemberian sertifikat tanah untuk menghindari konflik pertanahan yang marak di berbagai daerah. Ia terus menggencarkan sertifikasi tanah kepada warga negara yang belum memiliki legalitas tanah. Ia berharap masyarakat memanfaatkan sertifikat itu sebaik-baiknya. “Enggak apa-apa untuk jaminan ke bank, silakan.”

    Tapi Presiden menganjurkan agar calon kreditur harus menghitung kemampuan mengangsur kredit setiap bulan dan tidak konsumtif. “Hati-hati itu pinjaman bank.” Ia mencontohkan jika pinjam Rp300 juta dan yang Rp150 juta untuk membeli mobil, tak lama bisa gagah-gagahan. “Kalau dibuat beli mobil saya yakin gagahnya cuma enam bulan. Lalu ditarik bank,” kata Jokowi.

    Baca juga: Begini Gaya Presiden Jokowi Datangi Jakarta Sneaker ...

    Ia tak melarang warga untuk membeli mobil, asalkan duitnya berasal dari keuntungan bisnis. Itu sebabnya, Jokowi berpesan pemegang sertifikat harus menginvestasikan kucuran kredit untuk modal berbisnis. Kalau ada keuntungan, ia menganjurkan untuk ditabung. Jika tabungan cukup, bisa untuk membeli mobil dari keuntungan usaha, bukan uang dari pinjamannya bank. “Gunakan modal investasi kerja, jangan untuk kenikmatan dulu,” kata Presiden Jokowi.

    Adapun Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor berharap penyertifikatan lahan mampu mendongkrak kesejahteraan warga penerima. Sebab, kata dia, program ini membawa kepastian hukum bagi warga pemilik lahan.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.