Survei Elektabilitas Rendah, PKS: Bisa Naik Setelah Umumkan Caleg

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri bersama Presiden PKS Sohibul Iman dan jajaran berfoto bersama dengan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada acara Konsolidasi pasangan Calon Kepala Daerah PKS di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, 4 Januari 2018. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri bersama Presiden PKS Sohibul Iman dan jajaran berfoto bersama dengan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada acara Konsolidasi pasangan Calon Kepala Daerah PKS di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, 4 Januari 2018. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dedi Supriadi mengatakan kinerja partainya tidak bisa dinilai pada satu tahun sebelum Pemilu.

    "Bisa ada perbedaan setelah ada nama calon anggota dewan," ujar dia di Jakarta, Ahad, 25 Maret 2018. Pernyataan tersebut untuk menanggapi hasil survei yang dirilis Polcomm Institute Ahad ini.

    Dalam survei itu, elektabilitas PKS hanya mencapai 3,92 persen. Angka tersebut jauh di bawah PDIP yang memuncaki perolehan dengan 19,25 persen.

    Baca: Survei: PDIP, Gerindra, Golkar Tiga Besar di Pemilu 2019

    Sementara itu, Gerindra menjadi partai pesaing PDIP yang terdekat dengan 14,42 persen suara. Selanjutnya Golkar membuntuti dengan 13,08 persen, lalu posisi keempat dan kelima ditempati oleh Demokrat dengan 7,08 persen dan PKB dengan 4,5 persen.

    Dedi mengatakan bukan kali ini hasil survei memprediksikan raihan suara partainya di bawah empat persen. Menurut dia, pada beberapa pemilu sebelumnya pun partainya selalu diprediksikan meraup suara sedikit pada survei yang dilakukan setahun sebelum pemilu.

    "Ini sudah murah hati pada PKS, sebelumnya hanya dua koma malah satu koma, tapi 2004 naik, lalu 2009 naik lagi. Pada 2014 turun (persentasenya) tapi jumlah suaranya naik," kata Dedi.

    Baca: Survei Polcomm Institute: AHY Tertinggi sebagai Cawapres Jokowi

    Menurut riset yang dilakukan partainya, jumlah raihan suara bisa lebih besar apabila partai telah menampilkan anggota dewan, ketimbang hanya partainya saja. "Kalau kita anggap coblos partai dan anggota dewan serta anggota dewan saja itu 70 persen lebih besar ketimbang partai saja," kata dia. "Ini signifikan sekali pengaruh anggota dewan untuk partai."

    Meski begitu, dalam riset internal partainya, Dedi berujar, raihan suara PKS lebih tinggi dari hasil survey Polcomm Institute. Namun dia tidak menyebutkan angkanya. Ia hanya menyebut suara PKS tetap menghuni papan tengah dan terpaut tipis dengan PKB dan PAN.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.