Opsi Golkar Soal Cawapres Jokowi, Arsul Sani PPP: Belum Waktunya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekertaris Jenderal PPP Arsul Sani usai menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk

    Sekertaris Jenderal PPP Arsul Sani usai menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk "Memotret Kinerja KPK" di Bakoel Koffie, Cikini Raya, Jakarta, Senin, 4 Desember 2017. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan kubu Romahurmuziy, Arsul Sani, mengatakan terlalu awal bagi Golkar meminta tambahan jatah kursi menteri jika Golkar tak mendapat posisi calon wakil presiden pendamping Joko Widodo atau cawapres Jokowi.

    "Rasanya belum waktunya hal itu disampaikan sekarang," kata Arsul dalam pesan pendek kepada Tempo, Sabtu, 24 Maret 2018. 

    Baca juga: Jika Tak Jadi Cawapres Jokowi, Golkar Minta Tambah Jatah Menteri

    Arsul mengatakan partai politik memang wajar membicarakan kue kekuasaan. Namun untuk partainya sendiri, Arsul mengatakan masih terlalu dini bagi PPP berbicara soal kursi dalam kabinet pemerintah Jokowi. "Terlalu pagi bagi PPP bicara kursi menteri," ucapnya.

    Kemarin, Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono memberikan pilihan jika calon wakil presiden atau cawapres Jokowi dalam pilpres 2019 bukan dari Golkar. Salah satunya dengan penambahan kursi menteri. "Kalau tidak seperti itu (cawapres dari Golkar), jangan juga kemudian menyakiti perasaan kami. Bisa profesional (cawapres dari unsur profesional) atau penambahan (kursi Golkar) di kabinet," kata Agung di sela Rakernas Golkar di Jakarta.

    Agung mengatakan Golkar telah menyatakan dukungannya bagi Jokowi dalam pilpres 2019, meski Jokowi bukan kader Golkar. Menurut dia, agar dukungan Golkar semakin kuat maka harus dipertimbangkan cawapres dari Golkar. Agung mengatakan jika sosok cawapres Jokowi nantinya bukan sosok yang dikenal oleh Golkar, akan menimbulkan tanda tanya terhadap soliditas dukungan partai itu nantinya.

    Menurut Agung, Golkar dari awal mendukung Jokowi, bukan hanya omong kosong. Golkar membentuk kelompok-kelompok masyarakat pendukung Jokowi. "Sehingga sekarang Pak Jokowi sudah jauh lebih baik dari 2014, wajar dong kalau dapat posisi, masa kami tidak dapat apa-apa," katanya soal cawapres Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.