Cara Emha Ainun Najib Memaknai Pidato Prabowo

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto Prabowo dan buku Ghost Fleet karya P.W Singer dan August Cole/twitter.com-peterwsinger/Bisnis.com

    Foto Prabowo dan buku Ghost Fleet karya P.W Singer dan August Cole/twitter.com-peterwsinger/Bisnis.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Budayawan Emha Ainun Nadjib turut mengkomentari pidato Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang memperkirakan Indonesia bubar pada 2030. “Asumsi Amerika bahwa Indonesia bubar tahun 2030 itu jangan lalu disalahartikan Indonesia banjur ora ono (lalu tidak ada),” ujar Cak Nun, panggilan Emha di rumahnya, Kampung Kadipiro, Yogya, Jumat 23 Maret 2018.  

    Menurut Cak Nun, bubarnya Indonesia seperti dikutip buku fiksi karya ahli strategi Amerika Serikat Peter Warren Singer, GhostFleet merujuk pada hilangnya kendali-jati diri bangsa Indonesia di atas negerinya sendiri. “Bubar di sini bukan artinya gedung-gedung lalu runtuh  dan kintir (hanyut) ke laut semua, ora ngono (bukan begitu),” ujarnya.

    Baca:
    Pengamat: Pidato Prabowo Bisa Jadi Bumerang ... Soal Pidato Indonesia Bubar 2030, Prabowo: Ini ...

    Menurut Cak Nun, Indonesia pada 2030 justru menjadi negara yang besar dengan kemajuan pesat.  Industri membesar, perekonomian berkembang, pertanian melesat dan daya beli masyarakat membaik. Ia memperkiarakan Indonesia dan negara Asia Pasifik akan menjadi negara adikuasa, pusat putaran ekonomi dunia.

    Sedangkan Amerika dan Eropa berbalik menjadi negara dunia kedua. Sedangkan sejumlah negara di Afrika diprediksi tetap menjadi negara dunia ketiga. “Yang jadi masalah, koe tetep dadi jongos (kamu tetap menjadi pelayan). Indonesia bukan lagi milikmu, anda bukan bosnya,” ujarnya.

    Baca juga:
    Pidato Prabowo Kutip Buku Fiksi, Ini Cuitan Penulisnya
    Din Syamsuddin Tak Setuju Pidato Prabowo ...

    Sebagian besar rakyat Indonesia di tahun 2030 nanti, ujar Cak Nun, akan tetap dalam posisi menjadi pegawai rendahan yang tergantung pada para pemilik modal yang menguasai aset Indonesia. Agar situasi menjadi jongos di negeri sendiri itu tak terjadi, rakyat harus belajar memiliki martabat dengan berkuasa atas dirinya sendiri. Bukan bergantung.

    “Ayo belajar punya martabat, jangan ngemas-ngemis terus seperti sekarang. Itu yang hilang sekarang.” Kehilangan terbesar bangsa Indonesia bukanlah harta benda seperti kekayaan alam dan sebagainya. “Yang hilang itu martabat, kita tak punya konsep jelas tentang harga diri.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.