Polri Sampaikan Dugaan Motif Penyebaran Hoax Telur Palsu

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta melakukan konferensi pers dan uji coba di Jakgrosir Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 20 Maret 2018. Konferensi pers terkait dengan isu telur ayam palsu yang beredar di media sosial. Tempo/Syafiul Hadi

    Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta melakukan konferensi pers dan uji coba di Jakgrosir Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 20 Maret 2018. Konferensi pers terkait dengan isu telur ayam palsu yang beredar di media sosial. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO, Jakarta- Kepala Satuan Tugas Pangan Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan dugaan sementara motif dari peredaran hoax telur palsu adalah untuk menakut-nakuti masyarakat untuk membeli telur. "Untuk menakut-nakuti," ujarnya di Markas Besar Polri pada Kamis, 21 Maret 2018.

    Meski begitu, Setyo mengatakan penyelidikan kasus ini terus dikembangkan. Ia menyebut tidak menutup kemungkinan hoax ini dirancang agar masyarakat tidak lagi mengkonsumsi telur.

    Setyo menilai kemungkinan tersebut tidak bisa diremehkan lantaran telur merupakan salah satu sumber protein. "Bisa saja ini dampaknya untuk jangka panjang, saat sekarang anak-anak tidak lagi makan telur karena takut palsu, tidak mendapat protein yang cukup di masa pertumbuhan dan dewasanya," ujarnya.

    Baca: Satgas Pangan Polri: Hoax Telur Palsu Rugikan Pedagang

    Hoax telur palsu bermula dari viralnya sebuah video yang menyebar di media sosial. Dalam vidoe tersebut terlihat seseorang laki-laki yang menguji telur dengan membuka cangkangnya hingga memeriksa putih dan kuning telur.

    Video tersebut diketahui diambil di pasar Johar Baru Jakarta. Laki-laki tersebut mengatakan telur itu palsu lantaran terbuat dari bahan silikon yang kenyal dan dilapisi plastik.

    Baca: Edarkan Isu Telur Palsu di Masyarakat Bisa Terancam UU ITE

    Menurut Setyo, hoax telur palsu ini telah menyebabkan kerugian bagi para peternak telur. Di Blitar, omset peternak telur turun 30 hingga 40 persen. "Masyarakat khawatir untuk membeli telur," ujarnya.

    Setyo pun menjamin tidak ada telur yang palsu, karena butuh teknologi canggih dan biaya mahal. "Sedangkan harga telur berapalah," ujarnya.

    Setyo menyebutkan, Satga Pangan akan mengusut peredaran hoax telur palsu menjelang perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada 30 Maret mendatang. "Jumat besok kami rapat kesiapan pangan jelang HBKN termasuk membahas telur palsu," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RZWP3K, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

    Sebanyak 21 provinsi telah menerbitkan Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang dianggap tak berpihak pada nelayan.