Zaini Misrin Berpesan agar Anaknya Tidak Jadi Buruh Migran

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penyiksaan buruh migran. shutterstock.com

    Ilustrasi penyiksaan buruh migran. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Bangkalan - Mendiang Muhammad Zaini Misrin, buruh migran yang dipancung di Araba Saudi, mengirim sepucuk surat kepada keluarganya di Madura beberapa bulan lalu. Nur Intan, 39 tahun, adik ipar Zaini, yang turut membaca surat itu menuturkan curahan hati Zaini banyak berisi pesan untuk keluarga, khususnya kepada dua anaknya yang telah dewasa.

    Pesan yang paling melekat pada ingatan Nur Intan adalah Zaini tidak ingin anaknya bekerja di luar negeri. "Bahkan dia tidak mau anaknya merantau. Kalau bisa, kerja di Madura saja," kata Nur, Senin, 19 Maret 2018.

    Baca:
    Anak Buruh Migran Zaini Misrin Ingin Jenazah...
    Hingga Ajal, Zaini Misrin Membantah Tuduhan...

    Surat itu kini dijadikan semacam surat wasiat. Sebab, tak lama setelah menulis surat, buruh migran itu dieksekusi mati oleh pengadilan Arab Saudi tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pemerintah Indonesia.

    Zaini meninggalkan dua putra: Syaiful Toriq, 25 tahun, dan Mustofa Kurniawan, 17 tahun. Toriq kini bekerja sebagai pemasar telur ayam di Bangkalan. Sedangkan Mustofa masih menganggur karena baru lulus sekolah menengah atas satu tahun lalu.

    Simak: Tiga Protes Migrant Care atas Eksekusi Buruh Migran Zaini Misrin...

    Di mata keluarga dan tetangganya, Zaini dikenal sebagai sosok yang giat bekerja. Ia buruh migran sejak remaja, 1992. Pulang untuk menikah, Zaini kembali lagi ke Arab Saudi setelah istrinya hamil. "Kata ibu, saat masih di dalam kandungan, saya sudah ditinggal ke Saudi," kata Toriq.

    Setelah cukup lama pulang kampung, pada 2002, Zaini balik lagi ke Saudi. Ia menjadi sopir keluarga Abdullah. Kepada keluarganya, Zaini kerap bercerita majikannya sangat baik.

    Baca juga:
    Kemenlu: Eksekusi Zaini Misrin Terjadi Saat...
    Nusron Wahid: Pemerintah All Out Bela TKI Zaini...

    Dua tahun kemudian, Abdullah ditemukan tewas. Keluarganya mencurigai Zaini dan melaporkannya kepada polisi. Selama persidangan, Zaini kukuh menolak dakwaan sampai keluar vonis pengadilan. Hingga ajalnya datang, Ahad, 18 Maret 2018, pukul 11.30 waktu Saudi, dia masih tetap pada pendiriannya bahwa dia bukan pembunuh Abdullah. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.