Ketika Golkar Anggap Poros Ketiga Hanya Virtual

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat mengumumkan kepengurusan baru Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 22 Januari 2018. Airlangga menjadikan Ketua Umum Partai Golkar menggantikan posisi Setya Novanto yang menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP. TEMPO/Subekti.

    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat mengumumkan kepengurusan baru Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 22 Januari 2018. Airlangga menjadikan Ketua Umum Partai Golkar menggantikan posisi Setya Novanto yang menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto memperkirakan tak ada poros ketiga dalam pemilihan presiden 2019. Dia meyakini hanya akan ada dua pasangan calon yang bertarung.

    "Kalau secara matematis, hanya ada dua poros," kata Airlangga di Kompleks Istana Presiden pada Kamis, 15 Maret 2018.

    Baca: Pengamat CSIS: Poros Ketiga dalam Pilpres Mustahil Ada

    Menurut dia, salah satu calon adalah Joko Widodo yang telah megantongi dukungan Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, Partai Nasional Demokrat, dan Partai Hanura. Poros Jokowi ini setidaknya telah memiliki kursi 62,5 persen, dari presidential threshold 20 persen.

    Sementara poros lainnya, kemungkinan adalah poros Prabowo Subianto yang memiliki sekitar 20 persen kursi. Koalisi Prabowo diisi oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Partai lainnya, menurut Airlangga, akan kesulitan mengajukan satu calon presiden lagi lantaran terbentur aturan presidential threshold.

    Baca: Menunggu Takdir dan Keajaiban Poros Ketiga di Pilpres 2019

    Isu poros ketiga muncul saat Sekretaris Jenderal dari Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa duduk bersama membahas kemungkinan koalisi di Pacific Place, Jakarta beberapa waktu lalu. Ketiga partai itu masih belum mendeklarasikan dukungannya untuk calon tertentu hingga memutuskan melakukan penjajakan.

    Airlangga menilai, poros tersebut akan menjadi poros virtual dalam pilpres 2019. "Kecuali ada yang geser. Tapi namanya politik nanti kita lihat," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.