Dana Nasabah BRI di Kediri Raib, Polri: Korban 33 Orang

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto memperlihatkan barang bukti bom Kampung Melayu saat jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, 22 Juni 2017. TEMPO/Yovita Amalia

    Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto memperlihatkan barang bukti bom Kampung Melayu saat jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, 22 Juni 2017. TEMPO/Yovita Amalia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan hingga hari ini lembaganya masih menyelidiki kasus dana nasabah BRI di daerah Kediri, Jawa Timur, yang hilang. Jumlah laporan nasabah yang merasa uangnya raib mencapai 33 orang.

    "Ada kemungkinan bertambah," kata Setyo saat ditemui di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Maret 2018.

    Baca: Dana Hilang Mendadak, Puluhan Nasabah BRI Blokir Rekening

    Dana nasabah bank BRI di Kediri tiba-tiba hilang pada Senin kemarin. Kehilangan itu diketahui saat nasabah hendak melakukan transaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dan mendapati uang mereka telah berkurang.

    Rata-rata uang mereka berkurang mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Pada Selasa lalu, total ada 30 nasabah yang sempat menjadi korban praktik skimming tersebut.

    Saat ditanya mengenai potensi keterlibatan jaringan internasional dalam kasus itu, Setyo enggan menjawab dengan pasti. Menurutnya, kejahatan ini juga bisa dilakukan oleh orang lokal.

    BRI menyatakan telah mengganti kartu ATM 30 nasabah itu dan mengganti jumlah uang para nasabah yang hilang tersebut.

    Setyo menilai kejahatan siber sudah tidak bisa dianggap enteng saat ini. Menurut dia, polisi atau perbankan memerlukan sistem software yang harus selalu dicek dan diaudit untuk antisipasi kejahatan siber seperti kasus dana nasabah BRI di Kediri yang hilang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.