Minggu, 21 Oktober 2018

Polisi Masih Telusuri Keterkaitan Kelompok MCA dengan Saracen

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

    Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Bogor - Kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap seorang terduga pelaku penyebar hoax dan ujaran kebencian yang tergabung dalam The Family Muslim Cyber Army (MCA). Hal tersebut disampaikan Kepala Unit IV Subdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Ajun Komisaris Besar Endo.

    "Ada seseorang yang sudah kami dalami, tapi belum bisa kami tangkap," kata Endo di Bogor pada Ahad, 11 Maret 2018.

    Baca: Polisi dan PPATK Bahas Aliran Dana The Family MCA

    Menurut Endo, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk mendapatkan alat bukti yang cukup guna menangkap terduga pelaku tersebut. "Kami berupaya menghubungkan identitas ke identitas. Harus hati-hati betul," katanya.

    Selain itu, Endo mengatakan, polisi masih menelusuri keterkaitan para anggota MCA dengan kelompok lain penyebar hoax, Saracen. "Sampai sekarang kami masih menelusuri MCA dengan Saracen, untuk memastikan mereka betul-betul punya keterkaitan," ujarnya.

    Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Fadil Imran menyebut ada admin dari MCA ada yang merupakan mantan admin grup Saracen. "Pelaku-pelaku yang tergabung dalam MCA itu ada yang dulunya tergabung dengan Saracen," kata Fadil.

    Baca: Setara: Daya Rusak MCA Lebih Besar dari Saracen, Ini Faktanya

    Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim sebelumnya menangkap tujuh orang yang tergabung dalam kelompok MCA di sejumlah lokasi berbeda. Kelompok ini rutin menyebarkan unggahan foto, video, serta berita palsu berisi penghinaan, fitnah, dan pencemaran nama baik terhadap pemimpin dan para pejabat negara.

    "Mereka rutin mem-posting penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, pejabat pemerintah, dan anggota DPR," kata Fadil.

    Kelompok MCA ini juga kerap mengunggah hal-hal bertema suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial, termasuk isu provokatif tentang penyerangan terhadap ulama dan kebangkitan PKI. "Contoh postingan yang paling banyak meresahkan masyarakat adalah penculikan ulama," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.