Megawati: Makin Sulit Mencari Kader Politik Perempuan

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa Parade Juang Perempuan Indonesia saat melakukan damai memperingati Hari Perempuan Internasional di depan Gedung DPR RI, Jakarta, 8 Maret 2018. Aksi damai ini bertujuan untuk menyuarakan hak-hak perempuan, diantaranya menolak eksploitasi perempuan, menuntut akses perlindungan dan pemulihan bagi korban kejahatan seksual, serta upah yang layak. TEMPO/Subekti.

    Massa Parade Juang Perempuan Indonesia saat melakukan damai memperingati Hari Perempuan Internasional di depan Gedung DPR RI, Jakarta, 8 Maret 2018. Aksi damai ini bertujuan untuk menyuarakan hak-hak perempuan, diantaranya menolak eksploitasi perempuan, menuntut akses perlindungan dan pemulihan bagi korban kejahatan seksual, serta upah yang layak. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Bandung - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengeluh makin sulit menemukan kader politik perempuan. “Kaum perempuan semakin surut di bidang politik,” kata Mega dalam orasi ilmiahnya saat menerima gelar doktor honoris causa dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Kamis, 8 Maret 2018.

    Kondisi ini berbeda dengan keadaan sebelum kemerdekaan. Para ibu ikut berjuang bersama para lelaki. “Itu sangat kelihatan gairah dan elannya untuk berkiprah di bidang politik,” ucap Mega saat menerima gelar yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Akibatnya, partai kesulitan memenuhi kuota calon legislatif 30 persen perempuan.

    Baca:
    Megawati: Setelah Merdeka, Kaum Perempuan...
    Keterwakilan 30 Persen Perempuan Tak...

    “Saya selalu kesulitan memenuhi persyaratan pada calon anggota legislatif.” Padahal, ujar Presiden RI kelima itu, maksud dan niat untuk memberikan kuota 30 persen itu sangat baik. Landasan politiknya, tutur Mega, salah satunya berasal dari tulisan Presiden RI pertama Sukarno tahun 1928 berjudul Kongres Kaum Ibu.

    Bung Karno menjelaskan, persoalan emansipasi perempuan tidak hanya sebatas persoalan persamaan hak serta derajat antara kaum laki-laki dan perempuan. Persoalan emansipasi bagian dari emansipasi bangsa, artinya keterlibatan dan kesadaran dari kaum perempuan untuk bersama-sama kaum laki-laki mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka. “Gagasan ini menjadi landasan saya untuk berpolitik,” katanya.

    Simak: Hari Perempuan Internasional, Megawati Raih...

    Megawati mengaku sering menemukan kader perempuan partainya yang aktif berpolitik tapi kemudian minta berhenti. Ia menanyakan soal itu kepada yang bersangkutan karena karier politiknya bagus. Jawaban kader itu membuat Mega kecewa. Kader tersebut mengatakan suaminya mengultimatum agar memilih antara suami dan karier politik. “Saya lalu lemes.” Ia tidak bisa bersuara, tidak bisa memberikan usul dan saran. “Itu sudah masuk ranah keluarga.”

    Baca juga:
    KPU Tak Verifikasi Keterwakilan Perempuan...
    Partai Tetap Harus Usung 30 Persen Caleg...

    Megawati menyarankan, masalah ini perlu diteliti lebih dalam. “Mengapa justru setelah kita punya konstitusi, hak kita sama, di lapangan justru makin sulit,” ujarnya. 

    Mega menyampaikan ucapan selamat kepada perempuan Indonesia dan perempuan di seluruh dunia pada Hari Perempuan Internasional, Kamis, 8 Maret 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Pembala Jatuh, Marc Marquez Jaya di Catalunya, Barcelona

    Marc Marquez memenangi seri ketujuh balapan MotoGP di Sirkuit Catalunya, Barcelona pada 16 Juni 2019 yang diwarnai jatuhnya empat pebalap unggulan.