Polisi Tangkap Penyebar Hoax yang Bajak 1.000 Akun Facebook

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

    Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Siber Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menangkap seorang pria berinisial KB, penyebar isu sara dan berita bohong atau hoax. Tersangka yang merupakan lulusan teknik informasi ini telah membajak 1.000 akun Facebook untuk menyebarkan berita bohong.

    "Tersangka menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian dengan meng-hack akun FB orang lain," kata Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Irwan Anwar di kantornya pada Kamis, 8 Maret 2018.

    Baca: Kemenkominfo Serahkan Jejak Digital The Family MCA ke Polisi

    Irwan mengatakan tersangka terbukti menyebarkan berita bohong antara lain dengan konten suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan isu penyerangan ulama. Selain itu, kata dia, tersangka menyebarkan berita yang mencemarkan nama baik sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Sukarnoputri, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan, menurut Irwan, tersangka tidak terhubung dengan kelompok penyebar hoax, seperti Saracen atau Muslim Cyber Army. "Tidak ada indikasi terhubung dengan satu kelompok," ujar Irwan.

    Menurut Irwan, meski tersangka juga menyerang sejumlah tokoh nasional, tidak ditemui motif politik. "Belum ada indikasi kalau ada yang mengorder posting-an tersangka," ucapnya.

    Baca: Jadi Konseptor The Family MCA, Perempuan Ini Diburu Polisi

    Dalam menjalankan aksinya, kata Irwan, pelaku tidak menentukan akun yang akan dibajaknya. Tersangka memilih secara acak untuk mengganti kata sandi akun yang dia bajak.

    Namun Irwan enggan menjelaskan cara dan sistem yang digunakan pelaku dalam membajak akun orang lain. "Pemeriksaan lab sementara, ada 50 akun yang sudah dia ganti kata sandinya, sedangkan yang di-hack ada 1.000 lebih," tuturnya.

    Irwan mengatakan motif pelaku menyebarkan hoax karena ekonomi. Dari unggahannya, pelaku mampu mendapatkan keuntungan dari Google AdSense. Selain itu, kata dia, pelaku merasa didiskreditkan pemeluk agama mayoritas. "Pelaku merasa sakit hati sebagai kelompok minoritas," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.