Bantu Polri, Kemenkominfo Telusuri Jejak Digital The Family MCA

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

    Identitas anggota grup penyebar berita hoax MCA ditunjukkan dalam rilis di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. Tugas dari MCA ialah menyerang akun lawan dengan menyebar virus-virus hingga gawai milik lawan rusak dan menstrategikan isu baru untuk lawan. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Bangka Tengah - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan langkah-langkah untuk membantu Polri dalam membongkar jaringan penyebar hoax dan kebencian The Family Muslim Cyber Army (The Family MCA). Salah satunya dengan menelusuri rekam jejak digital anggota The Family MCA selama melakukan kejahatannya.

    "Kita bekerja sama dengan Polri mengungkap kasus ini. Kita juga melakukan penelusuran rekam jejak digital terhadap mereka (MCA)," kata Menteri Kominfo Rudiantara kepada wartawan usai menghadiri seminar Go Digitalisasi di Gale-Gale Resto Bangka Tengah, Selasa, 6 Maret 2018.

    Baca: Polri: Sebarkan Hoax, The Family MCA Punya Motif Politik

    Menurut Rudiantara, pihaknya akan melakukan penindakan terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran Undang-Undang ITE. Saat ini, kata dia, kerja sama dengan Polri terus ditingkatkan dalam menindak pelanggaran UU ITE.

    "Kami tidak peduli itu individu atau segolongan orang yang mengatasnamakan kelompok. Jika itu bertentangan, akan kami bersihkan," ujar dia.

    Rudiantara mengatakan kementeriannya secara bertahap akan memperbanyak situs dan konten internet positif untuk melindungi generasi muda Indonesia agar tidak terpapar dampak negatif dunia maya. Saat ini Kemenkominfo baru menyediakan 200 Ribu layanan internet positif.

    Baca: Wiranto Bakal Lapor Jokowi Soal Baasyir dan The Family MCA

    "Saat ini sudah 800 ribu lebih situs internet negatif yang kita blokir. Tapi kita juga sudah menyediakan situs internet positif, terutama untuk anak sekolah. Jumlahnya sudah sekitar 200 ribu situs. Namun akan kita tambah lagi secara bertahap," tuturnya.

    Rudiantara menambahkan jumlah situs internet positif saat ini belum sebanding dengan jumlah situs internet negatif yang sudah diblokir. Dia beralasan konten negatif sudah ada sejak lama, sementara dia baru menjabat tiga tahun.

    "Saya baru mengelola kementerian tiga tahun. Sedangkan internet negatif sudah banyak sejak beberapa tahun sebelumnya. Tapi saya yakin ke depan situs internet yang menyediakan konten positif akan lebih banyak ketimbang situs negatif," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.