Rochmadi Saptogiri Divonis 7 Tahun, Jaksa KPK Ajukan Banding

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Auditor Utama Keuangan Negara III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus suap pejabat BPK terkait pemberian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) di Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 4 Oktober 2017. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

    Auditor Utama Keuangan Negara III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus suap pejabat BPK terkait pemberian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) di Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 4 Oktober 2017. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kasus suap Badan Pemeriksa Keuangan atas nama terdakwa Rochmadi Saptogiri, menyatakan akan mengajukan banding atas putusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat. Sebab, jaksa merasa semua pasal yang dituduhkan ke Rochmadi harusnya bisa terbukti di persidangan.

    "Kami langsung ingin mengajukan banding yang mulia," ujar ketua tim jaksa KPK, Takdir Suhan, sesaat setelah hakim ketuk palu, Senin, 5 Maret 2018.

    Baca juga: Kasus Suap BPK, Rochmadi Saptogiri Divonis 7 Tahun Penjara

    Takdir menjelaskan, ada dua pasal yang tidak dianggap oleh hakim, yakni Pasal 12 b tentang gratifikasi dan Pasal 3 Tindak Pidana Pencucian Uang. Ia dan jaksa lainnya yakin semua fakta yang diungkapkan di sidang ada landasan alat buktinya.

    "Walaupun hakim di tingkat pertama tidak menganggap dua pasal itu terbukti, kami yakin hakim di tingkat tinggi punya keyakinan lain," ujarnya.

    Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, menjatuhkan vonis kurungan 7 tahun dan denda Rp 300 juta subsidair 4 bulan kurungan penjara terhadap terdakwa kasus suap BPK, Rochmadi Saptogiri, Senin, 5 Maret 2018.

    "Terdakwa Rochmadi Saptogiri terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar ketua majelis hakim Ibnu Basuki Widodo. Mendengar keputusan itu, Rochmadi terlihat langsung tertunduk lesu. Para pendukungnya yang merupakan kolega dan keluarga juga terlihat hening saat pembacaan putusan.

    Vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta terdakwa dihukum penjara 15 tahun.

    Adapun dua dari empat dakwaan Rochmadi yang telah terbukti, antara lain di dakwaan pertama, ia dinilai terbukti menerima suap Rp 240 juta dari pejabat Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

    Uang suap itu diberikan dengan maksud agar Rochmadi memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Kemendes tahun anggaran 2016.

    Sementara pada dakwaan keempat, Rochmadi dinilai terbukti menerima satu unit mobil Honda Odissey yang berasal dari anak buahnya, Ali Sadli. Mobil itu diduga berasal dari tindak pidana pencucian uang.

    Sedangkan, dua dakwaan yang menurut hakim tidak terbukti dalam persidangan, yakni dakwaan kedua dan ketiga. Rochmadi tidak terbukti menerima gratifikasi sebagaimana dakwaan kedua serta melakukan pencucian uang sebagaimana dakwaan ketiga.

    Nilai gratifikasi yang dimaksud itu sebesar Rp 3,5 miliar. Sementara pada dakwaan ketiga, Rochmadi Saptogiri disebut melakukan pencucian uang sebesar Rp 3,5 miliar itu dengan dibelikan sebidang tanah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.