Kasus Suap BPK, Ali Sadli Divonis 6 Tahun Penjara

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Sub Auditorat III Auditorat Keuangan Negara BPK Ali Sadli berjalan usai menjalani sidang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 18 Oktober 2017. ANTARA FOTO

    Kepala Sub Auditorat III Auditorat Keuangan Negara BPK Ali Sadli berjalan usai menjalani sidang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 18 Oktober 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, menjatuhkan vonis kurungan 6 tahun dan denda sebesar Rp 250 juta kepada terdakwa kasus suap BPK, Ali Sadli.

    "Terdakwa secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi, menerima gratifikasi, serta melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU)," ujar Ketua Majelis Hakim, Ibnu Basuki Widodo, di Pengadilan Tipikor, Senin, 5 Maret 2018.

    Baca juga: Kasus Suap BPK, Rochmadi Saptogiri Divonis 7 Tahun Penjara

    Ali, kata majelis hakim, terbukti melakukan semua tindak pidana yang dituduhkan jaksa KPK. Adapun tiga dakwaan yang dialamatkan kepada Ali oleh majelis hakim, yakni menerima gratifikasi sebesar Rp 8,7 miliar, menerima suap sebesar Rp 240 juta, dan memberikan satu unit mobil Honda Odyssey warna white orchids pearls hasil korupsi kepada terdakwa Rochmadi Saptogiri.

    Ali Sadli merupakan mantan Kepala Sub Auditorat III Auditorat Keuangan Negara BPK. Ia terbukti menerima uang sogokan sebesar Rp 240 juta dari Irjen Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Sugito dan Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan Inspektorat Kemendes, Jarot Budi Prabowo.

    Uang itu diberikan oleh Sugito dan Jarot dengan maksud agar Auditor Utama Keuangan Negara III BPK Rochmadi Saptogiri, menentukan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Kemendes tahun anggaran 2016.

    Selain itu, salah satu perusahaan yang memiliki kaitan dengan tindak pidana pencucian uang Ali Sadli adalah PT Jaya Real Properti. Ali diduga membeli sebidang tanah kavling seluas 258 m2 di Kompleks Kebayoran Symphoni Blok KM/A-19 Kelurahan Pondok Jaya Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, dari perusahaan ini.

    Pembayaran dilakukan oleh istri Ali, Wuryanti Yustianti dalam kurun waktu Juni 2016 hingga April 2017, dengan total sekitar Rp 3,9 miliar. Uang untuk pembelian ini diduga berasal dari tindak pidana gratifikasi yang dilakukan oleh Ali.

    Majelis hakim hanya bisa memvonis Ali menerima gratifikasi senilai Rp 8,7 miliar. Padahal jaksa KPK yakin Ali menerima gratifikasi sebesar Rp 10,5 miliar dan 80 ribu dolar Amerika Serikat.

    Vonis hakim lebih rendah ketimbang tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa menuntut Ali Sadli dihukum 10 tahun penjara. Atas vonis hakim tersebut, jaksa KPK langsung mengajukan banding. Adapun Ali Sadli mengatakan masih pikir-pikir.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.