Wartawan Senior Rusdi Mathari Meninggal

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rusdi Mathari. twitter.com

    Rusdi Mathari. twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Wartawan senior dan penulis, Rusdi Mathari, meninggal karena kanker pada Jumat pagi, 2 Maret 2018. Rusdi dimakamkan siang hari ini di TPU Srengseng Sawah, Jakarta.

    Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Nezar Patria, teman dekat Rusdi, menyampaikan rasa  dukanya. "Secara personal, dia orang yang punya pandangan yang jelas, dalam artian keras prinsipnya, pembelajar yang tekun, dan cukup produktif dalam menulis," kata Nezar yang juga eks Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, saat dihubungi Tempo pada Jumat, 2 Maret 2018.

    Nezar dan Rusdi bersahabat sejak sekitar 2001,  ketika mereka berdua masih sama-sama bekerja di Tempo. Mereka beberapa kali berkolaborasi untuk membuat tulisan jurnalistik. Tulisan mereka yang terakhir merupakan sebuah buku biografi berjudul Keputusan Sulit Adnan Ganto yang dipublikasikan pada 2017.

    "Rusdi dikenal dengan tulisan-tulisannya yang berkualitas. Dia selalu berusaha agar tulisannya enak dibaca, dengan usaha yang cukup keras untuk pengecekan data, sehingga banyak yang suka," kata Nezar yang juga anggota Dewan Pers ini.

    Buku lain yang juga pernah diterbitkan Rusdi ialah Aleppo dan Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Menurut Nezar, sikap-sikap Rusdi terkait berbagai persoalan aktual di publik,  terlihat dalam tulisan-tulisannya.

    Selama bergulat dengan kanker, Rusdi tetap menulis secara aktif. Tulisan-tulisannya tersebar di media sosial dan berbagai situs berita. Penggemar tulisannya setia menanti setiap posting statusnya di Facebook maupun artikel kritisnya di situs mojok.co. Tema tulisannya pun beragam, termasuk soal pengalamannya selama sakit yang diceritakannya dengan gaya humoris, tapi juga penuh kritik. Mulai dari tentang suster dan dokter yang ia temui, hingga kesesakan suasana kamar ICU yang ia tempati. Salah satu tulisannya berjudul "Elu Pengin Mati" menceritakan tentang tumor di lehernya yang terus membengkak dan kritik terhadap dokter yang menanganinya.

    "Rasa kepedulian Rusdi terhadap kawan-kawannya cukup tinggi dan dia selalu menjadi teman diskusi yang enak," kata Nezar, mengenang sahabatnya.

    Berbagai institusi pers, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan sejumlah media, juga nama-nama tenar dalam dunia jurnalistik dan penulisan di tanah air, seperti Dandhy Dwi Laksono, Zen RS, serta netizen yang mengenalnya lewat tulisan, ramai menyampaikan rasa berkabung melalui cuitan mereka di Twitter.

    Rusdi Mathari lahir di Situbondo pada 12 Oktober 1967. Dia pernah bekerja sebagai freelancer di Suara Pembaruan (1990-1994), redaktur InfoBank (1994-2000), situs berita  detikcom, penanggung jawab rubrik PDAT Majalah Tempo (2001-2002), redaktur Majalah Trust (2002-2005), Redaktur Pelaksana Koran Jakarta (2009-2010), Redaktur Pelaksana beritasatu (2010-2011), dan Pemimpin Redaksi VHR.media (2012-2013).

    FADIYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.