Abu Bakar Baasyir Ingin Jadi Tahanan Rumah, Emoh Pindah LP Solo

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Baasyir (tengah), tiba untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di RSCM Kencana, Jakarta, 1 Maret 2018. Sebelumnya, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu pernah menjalani pemeriksaan dan perawatan RS Pusat Jantung Harapan Kita, pada pertengahan 2017. AP/Dita Alangkara

    Terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Baasyir (tengah), tiba untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di RSCM Kencana, Jakarta, 1 Maret 2018. Sebelumnya, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu pernah menjalani pemeriksaan dan perawatan RS Pusat Jantung Harapan Kita, pada pertengahan 2017. AP/Dita Alangkara

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pemerintah berencana menjadikan terpidana terorisme, Abu Bakar Baasyir, sebagai tahanan rumah atau dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan di Solo.

    Menanggapi rencana tersebut, pengacara Baasyir, Guntur Fattahillah, mengaku sudah meminta konfirmasi kliennya. "Saya konfirmasi ke Ustad Abu. Ustad Abu bilang, 'Saya tidak mau dipindahkan ke Solo, tapi kalau saya dipindahkan jadi tahanan rumah saya mau'," kata Guntur di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018.

    Baca: Pengacara: Permohonan Tahanan Rumah Abu Bakar Baasyir Sejak SBY

    Jika dipindahkan ke LP Solo, Guntur mengatakan, Baasyir menganggapnya sama saja karena sudah merasakan tinggal di sejumlah lokasi tahanan yang berbeda. "Kalau di LP sama saja, mau di Solo, Gunung Sindur, Nusakambangan. Rata-rata sudah pernah dirasain beliau. Kalau tahanan rumah kan bisa dirawat oleh istri dan anaknya. Yang menajdi perbedaan di sana," ujarnya.

    Terkait wacana grasi atau pengampunan berupa pengurangan masa pidana, Guntur menegaskan kliennya tak akan mengajukannya kepada Presiden Joko Widodo. Sebab, Baasyir merasa tak bersalah. Jika mengajukan grasi, Baasyir menganggap sama saja dirinya harus mengaku bersalah atas kasus yang dituduhkannya.

    "Beliau menyampaikan tidak bersalah. Dia menyampaikan hanya menerangkan apa yang diyakininya, yaitu agama Islam. Dia menerangkan tentang agama Islam itu sendiri," katanya.

    Baca: Merasa Tidak Bersalah, Abu Bakar Baasyir Tolak Ajukan Grasi

    Selama ini, kata Guntur, permohonan grasi tidak pernah diajukan dari kuasa hukum maupun keluarga dan Baasyir. Pihaknya hanya pernah mengajukan Baasyir menjadi tahanan rumah agar dirawat oleh keluarganya lantaran usia yang sudah mencapai 80 tahun. Permohonan itu pernah diajukan pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun tak mendapat tanggapan. Apalagi, kondisi Baasyir saat ini sedang menurun.

    Mantan pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia itu didiagnosa menderita chronic venous insufficiency (CVI) bilateral atau kelainan pembuluh darah vena berkelanjutan. Dia dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

    Laki-laki berusia sekitar 80 tahun itu dipenjara karena terbukti bersalah dalam tindakan terorisme. Ia pun divonis 15 tahun penjara pada 2011.

    Abu Bakar Baasyir telah menjalani hukuman selama hampir tujuh tahun di penjara. Awalnya ia dihukum di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah. Karena kondisi kesehatan menurun, ia dipindahkan ke Rumah Tahanan Gunung Sindur, Bogor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.