Habibie Centre: Jangan Beri Stigma Teroris pada WNI dari Suriah

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi deportasi. america.aljazeera.com

    Ilustrasi deportasi. america.aljazeera.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Habibie Centre menilai masih banyak orang dan media massa yang memberi stigma terlibat terorisme dan radikalisme terhadap para returnee atau WNI yang dipulangkan dari Suriah. Head of International Relations Habibie Centre Wirya Adiwena meminta masyarakat berhenti memberi stigma negatif tersebut.

    "Mau enggak mau mereka nanti akan kembali ke lingkaran setan, akan berisiko kembali lagi," ucap Wirya ketika mengunjungi kantor Tempo pada Rabu, 28 Februari 2018.

    Baca: JK Dukung Rekonsiliasi Eks Napi Terorisme dan Keluarga Korban

    Selain itu, Wirya mengatakan tidak semua warga Indonesia yang pergi ke Suriah bertujuan bergabung dengan kelompok teroris seperti Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Beberapa di antaranya ada yang mencari pekerjaan dan pengobatan.

    Countering Terrorism and Capacity Building Program Habibie Centre Vidya Hutagalung menuturkan sekitar 220 orang yang baru akan masuk ke Suriah dipulangkan ke Indonesia akhir tahun lalu.

    Baca: Penyesalan Para WNI Mantan Pengikut ISIS

    Menurut dia, jumlah itu akan semakin bertambah. Terlebih akan datangnya deportan dari Marawi, Filipina. "Kita bakal banyak sekali kedatangan mereka," katanya.

    Dari pengalamannya mendampingi deportan, ucap Vidya, seseorang bisa kehilangan pekerjaannya karena stigma tersebut. "Karena bosnya ini menemukan nama dia tertangkap karena keterlibatan ISIS," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.