Ditanya Temuan Ombudsman, Begini Jawaban Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK Novel Baswedan saat berbincang dengan awak media di kediamannya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 27 Februari 2018. Novel membahas operasi tahap dua pada mata kirinya yang akan dilakukan di Singapura pada akhir Maret 2018 mendatang. TEMPO/Dewi Nurita

    Penyidik KPK Novel Baswedan saat berbincang dengan awak media di kediamannya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 27 Februari 2018. Novel membahas operasi tahap dua pada mata kirinya yang akan dilakukan di Singapura pada akhir Maret 2018 mendatang. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan enggan mengomentari pernyataan Komisioner Ombudsman Adrianus Meliala yang mengatakan bahwa Novel tidak kooperatif ketika diperiksa penyidik berkaitan dengan kasus penyerangan terhadap dirinya pada 11 April 2017 lalu.

    "Terkait Ombudsman, saya tidak komentari. Karena beberapa kali dibicarakan, saya belum di-BAP, saya di-BAP cuma 2-3 lembar," kata Novel Baswedan satu berbincang-bincang dengan awak media di kediaman, Jalan Deposito Nomor 8 Blok T, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Selasa, 27 Februari 2018.

    Baca: Soal TGPF, Novel Baswedan Serahkan pada Presiden Jokowi

    Menurut Novel, hal-hal seperti itu tidak perlu dikomentari. "Saya hanya komentari berkaitan dengan kebenaran dan kejujuran," kata Novel.

    Sebelumnya, Adrianus menyebut Novel tidak kooperatif dengan pihak kepolisian sehingga keterangan yang didapat belum maksimal.

    Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah menyayangkan pernyataan tersebut. Menurut Febri, komentar Adrianus tersebut sama saja menempatkan Novel dua kali sebagai korban.

    "Jadi kami ingatkan agar tidak menempatkan Novel dua kali sebagai korban," kata Febri, Senin, 19 Februari 2018.

    Febri menganggap pernyataan Adrianus itu kesalahan mendasar terkait dengan proses investigasi sebuah tindak pidana. "Akal sehat dan rasa kemanusiaan kita tidak bisa menerima jika justru korban yang disalahkan ketika pelaku belum ditemukan," kata Febri.

    Baca: Novel Baswedan: Setelah Operasi Tahap Dua Mata Saya Berwarna Pink

    Novel merupakan penyidik KPK yang terlibat dalam pengungkapan kasus-kasus besar yang menjerat banyak pejabat negara. Beberapa di antaranya suap cek pelawat Deputi Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom tahun 2004; korupsi Bank Jabar tahun 2009; suap bekas Bupati Buol, Sulawesi Tengah, Amran Batalipu, tahun 2011; korupsi proyek simulator SIM Korlantas Polri tahun 2012; suap ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, tahun 2013; dan megakorupsi proyek e-KTP 2014.

    Kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan terjadi pada Selasa, 11 April 2017. Novel disiram air keras setelah melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ikhsan, tak jauh dari rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setelah 10 bulan berlalu sejak kejadian itu, Polda Metro Jaya belum menangkap pelaku penyerangan walau telah merilis dua sketsa wajah terduga pelaku pada 24 November 2017.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.