Di Sidang Setya Novanto, Elza Cerita Nazaruddin-Anas Bersahabat

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Setya Novanto (kiri) mendengarkan keterangan dari Ganjar Pranowo, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 8 Februari 2018. Setya menyebut Ganjar menerima uang dari mantan anggota DPR, Mustokoweni Murdi. TEMPO/Imam Sukamto

    Setya Novanto (kiri) mendengarkan keterangan dari Ganjar Pranowo, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 8 Februari 2018. Setya menyebut Ganjar menerima uang dari mantan anggota DPR, Mustokoweni Murdi. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis hakim tindak pidana korupsi (tipikor) bertanya kepada Elza Syarief yang menjadi saksi di sidang Setya Novanto, mengenai keterlibatan mantan Bendahara Umum Partai Demorkat Muhammad Nazaruddin dalam proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Hakim melontarkan pertanyaan apakah Nazaruddin memang terlibat dalam megakorupsi proyek itu atau hanya diperintah oleh mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

    Elza mengaku tak mengetahui hal itu. Pengacara Nazaruddin itu malah menjawab, "Menurut ceritanya, dia sebagai bendahara umum, mereka bersahabat."

    Baca: KPK Sebut Belum Ada Informasi Signifikan dari Setya Novanto

    Menurut Elza, Nazaruddin bercerita kepadanya selalu mendampingi Anas. Bahkan, keduanya pernah mengenakan baju yang sama. "Dia (Nazaruddin) bilang di mana ada Anas, ada dia. Pokoknya cinta banget sama Anas," kata Elza di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin, 26 Februari 2018.

    Keterangan Elza berbeda dengan serangkaian keterangan Nazaruddin mengenai keterlibatan Anas dalam korupsi proyek tertentu. Dalam sidang pada 20 November 2017, misalnya, Nazaruddin menyebutkan, Anas menerima jatah sebesar 11 persen dari keuntungan proyek pengadaan e-KTP.

    Anas membantah penjelasan itu. Anas berujar, Nazaruddin telah mengumbar fitnah.

    Dalam kasus korupsi proyek wisma atlet di Hambalang, Nazaruddin yang juga menjadi terpidana kasus tersebut pernah menyebut Anas sebagai otak proyek Hambalang di DPR. "Yang mengatur di DPR Mas Anas, dari Kemenpora ada Wafid Muharram," kata Nazar saat bersaksi dalam sidang terdakwa korupsi proyek Hambalang Dedi Kusdinar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta pada Kamis, 16 Januari 2014.

    Baca juga: Sidang E-KTP, Jaksa Ungkap Rekaman Setya Novanto Sebut Demokrat

    Elza hadir di pengadilan tipikor untuk menjadi saksi terdakwa perkara korupsi e-KTP Setya Novanto. Total ada tujuh saksi yang hadir dari pihak swasta, mantan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS), dan pengacara.

    Setya didakwa jaksa penuntut umum KPK berperan dalam meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR pada medio 2010-2011 saat dirinya masih menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar. Atas perannya, Setya Novanto disebut menerima total fee sebesar US$ 7,3 juta. Dia juga diduga menerima jam tangan merek Richard Mille seharga US$ 135 ribu. Setya Novanto didakwa melanggar Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 tentang Tindak Pidana Korupsi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.