Minggu, 15 September 2019

Tidur Panjang, Apakah Letusan Gunung Merapi Bakal Lebih Dahsyat?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pendaki menuju area Pasar Bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 Oktober 2017. Walau dianggap sebagai gunung yang paling aktif ini, gunung Merapai masih menjadi gunung favorit bagi para pendaki maupun wisatawan mancanegara untuk sekadar menikmati suasana matahari terbit dari atas ketinggian. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

    Sejumlah pendaki menuju area Pasar Bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, 21 Oktober 2017. Walau dianggap sebagai gunung yang paling aktif ini, gunung Merapai masih menjadi gunung favorit bagi para pendaki maupun wisatawan mancanegara untuk sekadar menikmati suasana matahari terbit dari atas ketinggian. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, JakartaGunung Merapi yang membentang di wilayah DI Yogyakarta-Jawa Tengah seolah masih tidur panjang dari aktivitas vulkaniknya setelah letusan dahsyat pada 2010 silam.

    Sempat bermunculan prediksi dan kekhawatiran, apakah tidur panjang Merapi itu bakal membawa petaka lebih besar jika kelak meletus kembali.

    Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Gunung Api (BPPTKG) DI Yogyakarta I Made Agung Nandaka menuturkan belum bisa terjawab kepastian apakah letusan Merapi kelak akan lebih hebat dibanding sebelumnya.

    Baca juga: Jalur Pendakian Baru Merapi Lewat Klaten Dibuka Mei 2017  

    “Siapa yang bisa mengetahui kondisi persis di dalam (Merapi) seperti apa?” ujar Nandaka Jumat 22 Februari 2018.

    Nandaka menjelaskan, dalam sistem vulkanik seperti halnya Merapi terdapat sebuah kantung magma, kemudian ada saluran, juga sumber magma di bawah dengan kedalaman diperkirakan 100 kilometer.

    Terciptanya letusan ketika kantong magma ini sudah terisi kemudian terangkat ke atas melalui saluran yang ada dan muncul letusan.

    Untuk mengetahui berapa besar kekuatan letusan itu baru bisa diketahui salah satunya dari pengukuran laju kecepatan pengisian magma itu untuk mengukur berapa banyak material dan juga kecepatan muntahan letusan serta radius terdampak.

    “Problemnya sekarang, kita kan tak pernah tahu lajunya (pengisian magma sampai dikeluarkan) berapa, apa yang terjadi di dalam perut Merapi ini tidak ada yang tahu, siapa yang bisa menembus?” ujarnya.

    Baca juga: Mbah Maridjan Ternyata Menolak Tanggul Erupsi Gunung Merapi  

    BPPTKG selaku badan pemantau yang berfokus pada Merapi pun hanya bisa merekam gejala luar. “Kalau sekarang suhu normal, besok tiba-tiba naik, itu baru bisa jadi penanda mulai naiknya magma (yang kemudian terjadi letusan),” ujarnya.

    Nandaka menambahkan, saat ini suhu Merapi yang tercatat melalui pantauan kamera termal yang dipasang BPPTKG paling tinggi 141 derajat celcius.

    “Tapi ingat, pantauan kamera termal ini jelas beda dengan memantau langsung ke dalam, pasti lebih tinggi kalau mengukur langsung,” ujarnya. Perbedaan jauh pengukuran ini dibuktikan ketika BPPTKG mengukur melalui lubang sulfatara Merapi sebelum erupsi 2010 silam yang mencapai 700-800 derajat celcius.

    Nandaka menuturkan, dahsyat tidaknya letusan Merapi berikutnya tak berkait dengan jarak aktivitas vulkanik. Nandaka menegaskan kapan letusan Merapi berikutnya masih misteri dan belum bisa diketahui.

    Termasuk soal siklus rerata yang memprediksikan bahwa Gunung Merapi akan meletus lima tahunan juga tak terbukti. Merapi bisa meletus kapan saja. Dari catatan BPPTKG, Merapi memang pernah meletus pada 2001 kemudian disusul letusan berikutnya pada 2006 sebelum akhirnya meletus lagi pada 2010. Tapi pada 1997 dan 1998 Merapi juga meletus. Juga pada 1984 dan 1992.

    “Siklus letusan Merapi kali ini memang cukup lama sejak 2010, meski sempat tercatat empat kali ada gempa vulkanis, tapi status sekarang masih normal,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.