LIPI Ungkap 4 Alasan Mengapa Radikalisme Berkembang di Indonesia

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Polri melintas di depan Mabes Polri yang dipenuhi puluhan karangan bunga di Jalan Trunojoyo, Jakarta, 3 Mei 2017. Karangan bunga yang dikirim oleh berbagai pihak dan elemen masyarakat itu sebagai wujud dukungan kepada TNI dan Polri dalam memberantas radikalisme dan premanisme serta menjaga kedaulatan NKRI. ANTARA FOTO

    Anggota Polri melintas di depan Mabes Polri yang dipenuhi puluhan karangan bunga di Jalan Trunojoyo, Jakarta, 3 Mei 2017. Karangan bunga yang dikirim oleh berbagai pihak dan elemen masyarakat itu sebagai wujud dukungan kepada TNI dan Polri dalam memberantas radikalisme dan premanisme serta menjaga kedaulatan NKRI. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Politik, Adriana Elizabeth mengatakan, radikalisme berkembang di Indonesia begitu pesat. Menurut dia, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kelompok nasionalis agar ideologi radikal tidak semakin meluas. Adriana menjelaskan, ada empat alasan mengapa radikalisme dapat berkembang di Indonesia.

    “Proses seseorang menjadi radikal itu sangat rumit. Jika dia tidak merasa nyaman dengan situasi demokrasi saat ini, dia akan mencari ideologi lain, termasuk radikalisme,” ujar Adriana di Hotel Aryaduta Semanggi, Jakarta, pada Senin 19 Februari 2018.

    Alasan pertama seseorang menjadi radikal, kata Adriana, adalah untuk kepentingan personal. Hal itu, menurut Adriana bisa menyangkut urusan ideologi maupun finansial. Kelompok radikal bisa menyebar dengan luas dengan janji-janji kebutuhan finansial yang tercukupi. Selain itu, orang bisa tertarik terhadap radikalisme karena ada propaganda politik yang menarik.

    Baca juga: BNPT: Potensi Radikalisme Masyarakat Indonesia Perlu Diwaspadai

    Fasilitas seperti pelatihan dan transportasi juga, menurut Adriana bisa menjadi alasan seseorang bergabung dengan kelompok radikal. “Ini bisa dilihat dalam perekrutan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS,” kata Adriana. Selain itu, menurut Adriana, pemahaman soal penyucian diri juga menjadi alasan kuat bagi seseorang yang masuk ke dalam lingkaran radikalisme.

    Adapun, faktor lain yang mempengaruhi meningkatnya radikalisme di Indonesia, menurut Adriana, adalah etika para elit politik yang buruk. Hal itu menurut dia menyebabkan publik menjadi apatis terhadap demokrasi dan menjadikan radikalisme sebagai jalan alternatif.

    “Permusuhan antar elit politik juga tidak baik. Hal semacam ini menimbulkan sinisme bahwa demokrasi bukan yang terbaik,” tutur Adriana di Hotel Aryaduta Semanggi, Jakarta pada Senin, 19 Februari 2018.

    Baca juga: Berapa Banyak Dosen Anut Radikalismel? Kata Kemendikti....

    Menurut Adriana, radikalisme menjadi alternatif bagi masyarakat yang kecewa dengan demokrasi. Menurut dia, saat ini implementasi demokrasi di Indonesia sedang bermasalah. Ia mengatakan, hal ini juga semakin meningkat dalam momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2018 dan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.