Cerita Buya Syafii saat Menjenguk Penyerang Gereja St Lidwina

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buya Ahmad Syafii Maarif. TEMPO/Subekti

    Buya Ahmad Syafii Maarif. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif sempat menjenguk penyerang Gereja Santa Lidwina Sleman, Suliyono, 23 tahun, yang sempat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta paska aksi terornya 11 Februari 2018.

    Kurang lebih satu jam Buya menjenguk dan berbicara dengan penyerang gereja Sleman asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu yang dilututnya masih tersemat proyektil yang ditembakkan polisi untuk melumpuhkannya.

    Pada pertemuan itu, Buya sempat mengajak Suliyono mengucapkan sejumlah surat dalam Al-Quran misalnya At-Taubah.

    Baca juga: Buya Syafii: Intoleransi Lampu Kuning, Sultan Harus Dengar Rakyat

    "Bacaan dia pada ayat-ayat Al Quran bagus, lancar," ujar Buya panggilan Ahmad Syafii ketika menggelar diskusi bersama Gerakan Masyarakat Yogya Melawan Intoleransi di Gedung Suara Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu, 17 Februari 2018.

    Namun Buya menyesalkan, Suliyono memahami ayat-ayat Al Quran yang dikuasainya untuk menjalani jalan teologi maut dengan menggunakan ayat itu untuk melakukan kekejaman.

    "Saya pikir anak ini korban, korban karena kebodohannya, karena ketidaktahuannya, sehingga malah melakukan kekerasan dengan ayat-ayat yang dipahaminya," ujar Buya.

    Buya menilai pemahaman yang salah tentang Al Quran itu membuat Suliyono menjadi orang yang rindu mati dan tidak berani hidup.

    Buya pun semakin yakin Suliyono sudah tersesat dengan pemahaman yang salah. Sebab, sehari sebelum melancarkan aksi penyerangan gereja dia masih sempat menghubungi kedua orang tuanya. Suliyono mengatakan dia akan pulang ke rumahnya di Banyuwangi pada Selasa, 13 Februari 2018. Namun yang terjadi pada 11 Februari 2018 dia malah melakukan penyerangan Gereja Santa Lidwina.

    Baca: Organisasi Mahasiswa Desak Jokowi Tuntaskan Kasus Intoleransi

    "Saya tanya ke dia, 'Anda tidak takut mati?' karena menyerang gereja. Dia menjawab 'tidak', dia ini bingung, mau pulang ke rumah tapi juga kepingin mati," ujarnya.

    Buya menuturkan, sebenarnya kelompok salah jalan seperti Suliyono ini orang yang patut dikasihani karena diliputi keputusasaan, kebingungan, dan kegamangan pada hidup. Tapi karena tindakannya merusak dan mengancam nyawa orang lain menjadi tidak bisa dibiarkan dan hukum harus tegas menindak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.