Kamis, 22 Februari 2018

8 Kepala Daerah yang Diduga Korupsi untuk Modal Pilkada

Reporter:

Agung Sedayu

Editor:

Rina Widiastuti

Kamis, 15 Februari 2018 08:11 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 8 Kepala Daerah yang Diduga Korupsi untuk Modal Pilkada

    Bupati Subang Imas Aryumningsih, seusai menjalani pemeriksaan memakai rompi tahanan setelah terjaring operasi tangkap tangan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis, 15 Februari 2018. KPK mmenahan Bupati Subang Imas Aryumningsih, Kabid Perizinan DPM PTSP Pemkab Subang, Asep Santika, pihak swasta Darta dan pengusaha bernama Miftahhudin. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penangkapan Bupati Subang Imas Aryumningsih oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam operasi tangkap tangan menambah panjang daftar kepala daerah yang jabatannya berakhir gara-gara uang suap. Sepanjang 2017 hingga Februari tahun ini,

    KPK menangkap delapan kepala daerah yang hendak maju lagi, atau mencalonkan anggota keluarganya, dalam pemilihan kepala daerah serentak. Modus korupsinya beragam, dari memperdagangkan jabatan hingga menarik fee dari proyek daerah.

    Baca: Kena OTT KPK, Bupati Subang Yakin Ada Keterlibatan Lawan Politik

    Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, mengatakan duit korupsi diduga bukan hanya digunakan sebagai modal maju lagi dalam pilkada. Kepala daerah juga memburu komisi untuk mengembalikan modal yang mereka keluarkan dalam pilkada sebelumnya.

    “Kami mengingatkan para kepala daerah agar tidak melakukan praktik semacam itu," ujar Basaria, di Jakarta, Rabu, 14 Februari 2018.

    Berikut delapan kepala daerah yang ditangkap KPK karena terjerat kasus suap yang diduga untuk modal pilkada.

    1. Bupati Subang, Imas Aryumningsih

    Imas bakal maju lagi sebagai calon Bupati Subang, Jawa Barat. Dia didukung oleh Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Berkarya.

    Bupati Subang itu ditangkap KPK pada Selasa, 13 Februari 2018. Dia diduga menerima suap Rp 1,4 miliar dalam kaitan perizinan dari dua perusahaan yang sedang mengurus izin pembangunan pabrik dan tempat usaha di Subang, Jawa Barat.

    “Kesepakatan suap diduga mencapai Rp 4,5 miliar,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, di kantornya, Rabu, 14 Februari 2018.

    2. Bupati Ngada, Marianus Sae

    Marianus Sae yang kini menjabat sebagai Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur bakal maju sebagai calon Gubernur Nusa Tenggara Timur. Dia didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan PKB.

    Baca: KPK Ungkap Modus Suap Bupati Ngada yang Diduga untuk Pilkada

    Marianus ditangkap KPK pada Minggu, 11 Februari 2018. Dia diduga menerima suap Rp 4,1 miliar dari pemenang proyek jalan.

    3. Bupati Jombang, Nyono Suharli Wihandoko

    Nyono akan maju lagi sebagai calon Bupati Jombang, Jawa Timur, dengan didukung PKB, Golkar, PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PAN (Partai Amanat Nasional), dan NasDem.

    Tersangka Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko. TEMPO/Imam Sukamto

    Nyono ditangkap pada Sabtu, 3 Februari 2018. Dia diduga menerima suap Rp 275 juta dalam kaitan perizinan dan pengurusan jabatan

    4. Bupati Halmahera Timur, Rudi Erawan

    Bupati Halmahera Timur, Maluku Utara ini berencana maju sebagai calon Gubernur Maluku Utara. Dia diusung oleh Partai Demokrat, PKB, dan NasDem. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 31 Januari 2018. Dia diduga menerima suap Rp 6,3 miliar dari sejumlah kontraktor proyek jalan.

    5. Bupati Nganjuk, Taufiqurrahman

    Istri Bupati Nganjuk, Jawa Timur, Taufiqurrahman, Ita Triwibawati berencana maju dalam pemilihan Bupati Nganjuk dengan dukungan Partai Golkar.

    Taufiqurrahman ditangkap KPK pada 25 Oktober 2017. Dia diduga menerima gratifikasi sebesar Rp 2 miliar dari kontraktor.

    6. Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari

    Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini berencana maju sebagai calon Gubernur Kalimantan Timur melalui Partai Golkar. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 26 September 2017. Rita diduga menerima Rp 436 miliar dari sejumlah pihak sebagai fee proyek dan perizinan.

    Rita ketika itu mengatakan penetapannya sebagai tersangka adalah tindakan tergesa-gesa. “Penetapan saya sebagai tersangka terlalu terburu-buru," ujarnya.

    7. Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko

    Eddy yang saat itu masih menjabat sebagai Wali Kota Batu, Jawa Timur terjerat kasus korupsi saat istrinya, Dewanti Rumpoko, akan maju sebagai calon Wali Kota Batu melalui PDIP.

    Eddy ditangkap pada 16 September 2017 dalam operasi tangkap tangan. KPK menduga Eddy menerima suap Rp 500 juta dalam kaitan proyek belanja modal dan pengadaan mebel.

    Eddy membantah menerima uang suap. "Duitnya mana aja, saya enggak terima," ujarnya.

    8. Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno

    Wali Kota Tegal, Jawa Tengah itu berencana kembali maju sebagai calon Wali Kota Tegal dengan dukungan Partai Golkar. Ia ditangkap pada 29 Agustus 2017. Dia diduga menerima setoran dari kepala dinas serta menerima fee proyek sekitar Rp 5,1 miliar.

    FRANSISCO ROSARIANS | Diolah dari berbagai sumber


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Inilah Wakanda dan Lokasi Film Black Panther Buatan Marvel

    Marvel membangun Wakanda, negeri khayalan di film Black Panther, di timur pantai Danau Victoria di Uganda. Sisanya di berbagai belahan dunia.