Jumat, 21 September 2018

Sultan Yogya Dinilai Belum Mampu Jaga Toleransi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi sedang melakukan olah TKP di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman Yogyakarta pasca-penyerangan oleh seorang pria bersamurai. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Polisi sedang melakukan olah TKP di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman Yogyakarta pasca-penyerangan oleh seorang pria bersamurai. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naispospos menilai aparat dan Sultan Yogya belum mampu menjaga toleransi sehingga memicu banyaknya kasus-kasus yang mengangkat isu politik identitas. Salah satu kasus yang baru terjadi adalah penyerangan di Gereja Santa Lidwina Sleman oleh seorang pria menggunakan pedang.

    “Sepertinya aparat di Yogya, termasuk Sultan sebagai penjaga kebudayaan Yogya, belum menunjukkan kebijakan dan tindakan yang mampu menjaga toleransi yang sebenarnya sudah baik di yogya,” kata Bonar kepada Tempo, Ahad, 11 Februari 2018.

    Baca juga: Gereja St Lidwina Diserang, Bupati Sleman: Ini Motif Apa Lagi?

    Bonar mengatakan, Yogya mendapat sorotan belakangan ini dan beberapa tahun terakhir soal politik identitas, khususnya kebebasan beragama. Padahal, menurut Bonar, sebelumnya Yogya mengklaim sebagai city of tolerant karena banyak anak muda dari berbagai pelosok Indonesia untuk belajar datang ke Yogya, Menurut Bonar, dulu Yogya adalah kota yang multikultur dan toleran.

    Simak: Indonesia Bangsa Intoleran Berdasarkan Survei Wahid Foundation

    “Tapi beberapa tahun ini memang muncul kelompok-kelompok yang mengeksploitasi isu-isu keagamaan untuk kepentingan mereka,” ujar Bonar.

    Saksikan: Kesaksian Ketua Gereja St Lidwina: Romo Prier Korban Terparah

    Menurut Bonar, aparat kepolisian harus memberikan hasil penyidikan yang transparan dan berdasarkan fakta-fakta yang mereka temukan dalam penyerangan di Gereja Santa Lidwina. Karena, kata Bonar, kepercayaan serta kekhawatiran publik akan peristiwa semacam ini akan menimbulkan situasi yang penuh ketidakpastian.

    “Selama ini tidak dijawab aparat dengan penyidikan dan penyelesaian hukum yang akuntabel, profesional, dan justru berpotensi menimbulkan situasi penuh ketidakpastian dengan munculnya rumor-rumor,” ujarnya.

    Baca juga: Begini Detik-detik Penyerangan Gereja St Lidwina Sleman

    Bonar mengatakan, jika polisi tidak bisa memberikan hasil yang kredibel, akuntabel, dan bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat, maka hal itu dikhawatirkan akan menjadi bola liar.

    Seorang pria bersamurai mengamuk di dalam Gereja Santa Ludwina saat misa tengah berlangsung pagi tadi. Ia melukai pemimpin misa Romo Edmund Prier SJ dan dua umat lainnya yang tengah beribadah, serta seorang anggota Polri yang hendak mengamankannya. Pelaku diketahui bernama Suliyono, seorang warga asal Banyuwangi, Jawa Timur.

    Baca juga: Jenguk Korban Serangan Gereja St Lidwina, Sultan HB X Sedih


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.