Rabu, 20 Juni 2018

Pengalaman Afganistan, Jokowi: Jangan Lupa Nikmatnya Kerukunan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (kanan) mewawancarai wartawan senior Yusri Nur Raja Agam (kiri) saat peringatan puncak Hari Pers Nasional 2018 di Padang, 9 Februari 2018. Presiden mengatakan pers semakin diperlukan di tengah kemajuan teknologi digital. ANTARA/Iggoy el Fitra

    Presiden Jokowi (kanan) mewawancarai wartawan senior Yusri Nur Raja Agam (kiri) saat peringatan puncak Hari Pers Nasional 2018 di Padang, 9 Februari 2018. Presiden mengatakan pers semakin diperlukan di tengah kemajuan teknologi digital. ANTARA/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta para pemuka agama untuk selalu mengingatkan masyarakat tentang kondisi di negara yang sedang dilanda konflik dan perang saudara, agar tak lupa dengan nikmatnya kedamaian.

    Jokowi menuturkan, Indonesia beruntung sebagai negara dengan masyarakat yang sangat majemuk dan memiliki toleransi serta rasa kebersamaan. "Jangan sampai lupa tentang anugerah dari Tuhan mengenai ini. Jangan sampai kita lupa nikmatnya kerukunan, karena kita selama ini selalu rukun," ucapnya saat bertemu dengan Peserta Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu, 10 Februari 2018.

    Kondisi tersebut jauh berbeda dengan situasi di negara yang sedang berkonflik dan dilanda perang saudara. "Yang kehidupan sehari-harinya selalu dihantui oleh perang, yang peradabannya mundur sampai puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke belakang," ujar Jokowi.

    Baca juga: Belum Rapat, Jokowi: Gaji PNS Dipotong untuk Zakat Masih Wacana

    Presiden mencontohkan kondisi di Bangladesh saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Dia datang ke lokasi pengungsi Rakhine State di Bangladesh, Cox's Bazar. "Kondisinya sangat memprihatinkan," kata dia.

    Presiden menemukan hal serupa saat berkunjung ke Kabul, Afganistan. Dia kaget melihat kota yang sangat besar dengan gedung-gedung tinggi. "Tapi kehidupan sehari-harinya betul-betul tidak bisa disampaikan dalam kata-kata. Di setiap jalan ada tank, di setiap gang ada tank, di setiap tempat ada," ujarnya.

    Serangan pun sering terjadi di sana. Delapan hari sebelum kedatangan Jokowi, terdapat ledakan bom yang menewaskan 20 orang. Dua hari jelang keberangkatan, kembali terjadi ledakan bom yang menewaskan 103 orang.

    Jokowi menuturkan, bahkan dua jam sebelum kedatangannya, sebuah akademi militer di Kabul diserang. Sebanyak lima tentara tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

    Menurut Jokowi, peperangan di Afganistan menyulitkan negara. "Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyampaikan kepada saya bahwa negaranya memiliki deposit gas dan minyak yang besar, emas terbesar di dunia, tetapi tidak bisa dikelola karena peperangan tadi," kata Jokowi.

    Dia juga mengutip ucapan Ibu Negara Afghanistan, Rula Ghani, yang menyampaikan peradaban Afghanistan mundur jauh ke belakang. Padahal 40 tahun lalu, sebelum perang melanda, negara tersebut tumbuh dengan baik dibanding negara tetangga.

    Bahkan dulu, perempuan mengemudikan mobil antar kota merupakan hal yang biasa di Afganistan. Beda dengan kondisi sekarang.

    "Mungkin negara lain saat itu belum ada yang nyetir, di sini sudah bisa. Tapi akibat konflik perang, perempuan tidak bisa bersekolah lagi. Keluar rumah dibatasi karena masalah keamanan. Yang terkena dampak paling besar adalah dua, anak-anak dan perempuan," ucap Presiden.

    Jokowi menuturkan, perang dan konflik menghancurkan nilai kemanusiaan. Dalam kondisi seperti itu, kelompok-kelompok yang bertikai akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dan menang tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai yang benar dan salah. Dalam situasi seperti ini sudah tidak ada lagi nilai-nilai kemanusiaan.

    Baca juga: Jokowi Minta Revitalisasi Kawasan Saribu Rumah Gadang Dikebut

    "Ini yang beliau (Rula Ghani) katakan, betapa yang namanya kerukunan, perdamaian, persaudaraan, nilai yang betul-betul harus dijunjung tinggi," ujar Presiden.

    Luka psikologis karena konflik pun butuh waktu berpuluh tahun untuk menghilangkannya. Menurut Jokowi, anak yang dilahirkan di tengah situasi kekerasan akan melahirkan generasi yang juga penuh kekerasan baru.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Libur Lebaran dengan Helikopter, Siapa Takut?

    Helikopter menjadi sarana transportasi yang efektif menghindari macet. Orang-orang berduit memilih menggunakannya, termasuk di libur Lebaran ini.