Saat Jokowi Mengenang Tokoh Pers Djamaluddin Adinegoro

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menjawab pertanyaan awak media saat mengunjungi tempat kelahiran tokoh pers Djamaluddin Adinegoro di kawasan Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat., 8 Februari 2018. Foto/Intan/Biro Pers Setpres

    Presiden Joko Widodo menjawab pertanyaan awak media saat mengunjungi tempat kelahiran tokoh pers Djamaluddin Adinegoro di kawasan Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat., 8 Februari 2018. Foto/Intan/Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyempatkan mengunjungi rumah tempat kelahiran Djamaluddin Adinegoro, tokoh pers dan kesusastraan Indonesia di Jalan M Yamin, Nagari Talawi Mudik, Kecamatan Talawi, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat, pada Kamis 8 Februari 2018.

    Kedatangan Jokowi merupakan bentuk apresiasinya terhadap Adinegoro. "Beliau tokoh pers yang betul-betul harus kita ingat karena sekarang ini kita ada kecenderungan meninggalkan kesusastraan sehingga baik sisi jurnalisme, sisi penulisan harus mengingat kembali kesejarahan dari beliau Bapak Djamaluddin Adinegoro," ujar Presiden Jokowi seperti dilansir keterangan tertulis pada Kamis, 8 Februari 2018.

    Baca juga: Hari Kedua di Sumatera Barat, Jokowi Kunjungi Tiga Kabupaten

    Pria bernama asli Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan dikenal sebagai Pelopor Jurnalistik Indonesia. Karya-karyanya juga mewarnai khasanah bahasa dan kesusastraan Indonesia. Dua karyanya yang terkenal adalah Atlas Semesta Dunia
    (1952, bersama Adam Bachtiar dan Sutopo) dan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954).

    Adapun karya sastranya berjudul Darah Moeda dan Asmara Djaja membuatnya dikenal sebagai pengarang novel masa Awal Angkatan Balai Pustaka. Adinegoro juga melahirkan novel perjalanan berjudul Melawat ke Barat.

    Ini adalah kisah perjalanan ia ke Eropa untuk belajar jurnalistik. Adinegoro menulis ceritanya itu secara bersambung di Harian Pandji Pustaka sepanjang 1926-1929. Bukan hanya sekadar menulis laporan pandangan mata, dia mengaitkan pengalamannya dengan sejarah dunia dan membandingkan itu dengan Indonesia.

    Balai Pustaka menerbitkan kisah-kisah di harian Pandji Pustaka itu dalam buku Melawat ke Barat. "Saya ingat bukunya laku keras," kata wartawan senior Rosihan Anwar seperti dikutip Majalah Tempo edisi 19 Mei 2008.

    Setelah kembali ke Tanah Air, Djamaloedin Adinegoro menjadi wartawan Pandji di Jakarta, kemudian ke Medan menahkodai harian Pewarta Deli. Adinegoro terakhir tercatat memimpin Persbiro Indonesia hingga akhirnya kantor berita itu digabung dengan Antara pada 1962. Adinegoro wafat pada 1967 dan dimakamkan di Karet, Jakarta.

    Presiden Jokowi yang mengunjungi tempat kelahiran Djamaluddin Adinegoro sekaligus menyerahkan sertifikat untuk tanah rumah seluas 2.459 meter persegi.

    Baca juga: Siapa Saja Pengaggas Kongres Sumpah Pemuda  

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan Museum Adinegoro. Museum Adinegoro diharapkan akan memberikan banyak manfaat bagi kemajuan jurnalistik dan kesusastraan tanah air. "Tentu saja nanti kesejarahan dari beliau akan diabadikan di dalam museum yang ada," ujarnya.

    Keluarga besar Djamaluddin Adinegoro pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Jokowi atas apresiasi dan dukungannya terhadap rencana pembangunan Museum Adinegoro. "Mudah-mudahan ini bermanfaat untuk pendidikan dan terutama kemajuan pers Indonesia," ucap salah seorang cucu Adinegoro, Medrial Alamsah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.