Emosi Fredrich Yunadi, Tuduh KPK dan Sebut Nama Budi Gunawan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa Obstruction of Justice Fredrich Yunadi, saat menunjukkan surat eksepsinya untuk membantah surat dakwaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 8 Februari 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Terdakwa Obstruction of Justice Fredrich Yunadi, saat menunjukkan surat eksepsinya untuk membantah surat dakwaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 8 Februari 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi menjalani sidang dakwaan pada Kamis, 8 Februari 2018 sebagai terdakwa dalam kasus perintangan penyidikan atau obstruction of justice di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Fredrich diduga memanipulasi data medis mantan kliennya itu bersama dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutardjo.

    Dalam sidang perdananya itu, Fredrich telah membuat hakim menegurnya hingga mengetuk palu sidang. Ia dinilai menyampaikan hal yang tidak sesuai agenda persidangan, yaitu pembacaan dakwaan.

    Baca: Fredrich Yunadi Akui Kenal Bimanesh 15 Tahun dan Sudah Merawatnya

    Fredrich terus bicara soal dakwaannya yang dinilai penuh rekayasa. "Terdakwa dengarkan saya. Jangan ngomong sana-sini dulu. Jawab pertanyaan kami dulu," kata hakim Saifuddin Zuhri.

    Berikut sejumlah hal yang diungkapkan Fredrich dalam persidangan perdananya.

    - Fredrich mengungkapkan kedekatannya dengan dokter Bimanesh Sutarjo
    Saat sejumlah wartawan mencecarnya dengan beberapa pertanyaan, termasuk bagaimana hubungannya dengan Bimanesh, Fredrich menyebut ia sudah kenal lama dengan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo. "Dokter Bimanesh itu dokter yang merawat saya," kata Fredrich. Ia menyebut sudah 15 tahun kenal Bimanesh dan biasanya dirawat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

    Simak: Fredrich Yunadi Suka Kemewahan, Pamer di Acara Najwa

    - Fredrich memaksa bacakan nota keberatan
    Setelah jaksa penuntut umum KPK membacakan dakwaan, Fredrich meminta agar dia diberikan kesempatan untuk menyampaikan nota keberatan atau eksepsi yang telah dia susun sendiri. Ia menilai keterangan-keterangan dalam surat dakwaan tersebut direkayasa KPK alias banyak hal yang menurut Fredrich tidak sesuai fakta sebenarnya.

    Baca: Sidang Fredrich Yunadi, Setya Novanto: Ngamuk-ngamuk Nggak Dia?

    - Fredrich akan mengajukan banding atas pemecatannya sebagai advokat oleh Perhimpunan Advokat Indonesia atau Peradi
    Peradi memutuskan untuk memecat Fredrich Yunadi sebagai advokat. Dewan Kehormatan Peradi menilai Fredrich telah melanggar kode etik advokat dan tidak menjalankan sesuai yang dikuasakan kliennya. Fredrich yang tak terima memutuskan akan mengajukan banding atas pemecatan tersebut.

    - Fredrich menyeret nama Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan
    Fredrich sempat naik pitam usai dirinya menjalani persidangan. Amarahnya memuncak saat polisi akan membawanya untuk segera masuk ke mobil tahanan setelah sidang digelar, tapi Fredrich menolak dan masih ingin menyampaikan sejumlah bukti kepada awak media. Fredrich menunjukkan kertas yang berisi gambar sejumlah anggota kepolisian yang menjaga ruang gawat darurat saat Setya Novanto menjalani perawatan usai mengalami kecelakaan. "Coba lihat sini, mereka ini adalah mantan-mantan polisi yang dipecat, saya punya bukti mereka itu pernah dipecat. Karena kasusnya waktu zamannya Pak BG (Budi Gunawan), karena itu mereka sakit hati," kata Fredrich.

    Dalam perkara perintangan penyidikan ini, Fredrich Yunadi diduga melanggar Pasal 21 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ia pun akan menjalani sidang keduanya pada Kamis, 15 Februari 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.