Ganjar Pranowo Jadi Saksi di Sidang Setya Novanto

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, seusai memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi e-KTP, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 13 Oktober 2017. Andi Narogong diketahui melakukan sejumlah pertemuan dengan pejabat Kementerian Dalam Negeri, anggota DPR, dan pengusaha lainnya. TEMPO/Imam Sukamto

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, seusai memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi e-KTP, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 13 Oktober 2017. Andi Narogong diketahui melakukan sejumlah pertemuan dengan pejabat Kementerian Dalam Negeri, anggota DPR, dan pengusaha lainnya. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sidang lanjutan dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) dengan terdakwa Setya Novanto digelar hari ini, 8 Februari 2018. Salah satu saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Nama Ganjar disebut-sebut turut menerima uang US$ 520 ribu.

    Ganjar menegaskan bahwa kasus korupsi proyek e-KTP ini adalah persoalan lama. Ia telah berulang kali membantah menerima dana dari proyek tersebut. "Sorry ya, kita tidak terima. Kita tidak main-main soal itu," ujar Ganjar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Februari 2018.

    Baca juga: Ganjar Pranowo Siap Mundur jika Terlibat Korupsi E-KTP

    Saat ditanyai soal peran Setya dalam kasus megakorupsi itu, Ganjar tak menjelaskan rinci. Ganjar berujar agar menunggu saja persidangan dimulai. Hingga pukul 09.40 WIB, Setya belum juga tiba di pengadilan dan sidang belum berlangsung.

    Sebelumnya, sejumlah saksi telah dihadirkan oleh jaksa. Mereka berasal dari pelbagai kalangan, mulai dari pihak swasta, pemerintah, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan terpidana korupsi e-KTP. Di antaranya mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan terpidana e-KTP Irman serta Sugiharto.

    Setya didakwa jaksa penuntut umum KPK berperan dalam meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR pada medio 2010-2011 saat dirinya masih menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar. Atas perannya, Setya Novanto disebut menerima total fee sebesar US$ 7,3 juta. Dia juga diduga menerima jam tangan merek Richard Mille seharga US$ 135 ribu. Setya Novanto didakwa melanggar Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 tentang Tindak Pidana Korupsi.

    Baca juga: Istri Dilarang Ikut, Ganjar Pranowo Telepon Menpan dan Mendagri

    Kini, Setya sedang mengajukan permohonan menjadi justice collaborator. Seperti yang diketahui, syarat-syarat untuk menjadi JC di antaranya mengakui perbuatan, bersedia terbuka menyampaikan informasi yang benar tentang dugaan keterlibatan pihak lain yaitu aktor yg lebih tinggi atau aktor intelektual atau pihak-pihak lain yang terlibat dan pemohon bukan merupakan pelaku utama dalam perkara.

    Apabila permohonannya disetujui KPK, seperti pelaku korupsi yang menjadi justice collaborator yang lain, Setya Novanto akan dipertimbangkan untuk menerima tuntutan hukuman lebih ringan. Setelah itu, ketika menjadi terpidana, justice collaborator bisa menerima pemotongan masa tahanan dan hak-hak narapidana lain yang bisa diberikan secara khusus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fakta-fakta Pelantikan Jokowi - Ma'ruf, Dihadiri Prabowo - Sandi

    Selain beberapa wakil dari berbagai negara, pelantikan Jokowi - Ma'ruf ini dihadiri oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.