Jumat, 17 Agustus 2018

KLHK Evaluasi Banjir Jakarta dan Longsor Puncak Jawa Barat

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal PDASHL KLHK Hilman Nugroho di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta,  Rabu, 7 Februari 2018.

    Direktur Jenderal PDASHL KLHK Hilman Nugroho di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018.

    INFO NASIONAL - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL), melakukan evaluasi cepat terkait bencana banjir di Jakarta dan longsor yang terjadi di daerah Puncak, Jawa Barat 5 Februari 2018 lalu. Tanggal 5 Februari 2018 kemarin, DKI Jakarta mengalami bencana banjir, yang diakibatkan oleh curah hujan lokal yang ekstrem. Saat itu juga terjadi longsor pada 5 titik berbeda di daerah Puncak, Jawa Barat. 

    Hasil evaluasi kedua kejadian bencana ini dipaparkan Direktur Jenderal PDASHL KLHK Hilman Nugroho di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta,  Rabu Februari 2018. Selain Hilman Nugroho, hadir juga Direktur Perencanaan, Evaluasi dan Perencanaan Daerah Aliran Sungai (PEPDAS) Yuliarto Joko Putranto, Direktur Pengendalian Kerusakan Perairan Darat, Hermono Sigit, dan Sekretaris Direktorat Jenderal PDASHL Murdiyono.

    Di awal, Hilman menjelaskan terkait longsor yang terjadi pada beberapa titik di Puncak, Jawa Barat. Longsor terjadi di daerah Widuri, Gunung Mas, Riung Gunung, Grand Hill dan sekitar masjid Atta’awun. Semua titik longsor tersebut berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu.

    Ada 6 tipe longsor, translasi, rotasi, pergerakan blok, reruntuhan batuan, rayapan tanah dan aliran bahan rombakan. Longsor di kawasan ini bertipe translasi, yaitu masa tanah yang bergerak turun sesuai bidang gelinciran yang rata. “Tipe longsorannya adalah translasi, tidak ada rayapan, pergerakan blok, rotasi dan lain sebagainya,” ujar Hilman.

    Lebih lanjut, Hilman menerangkan bahwa faktor utama penyebab terjadinya longsor ini adalah tingginya curah hujan antara 148-151 mm/hari yang berlangsung selama 2-3 hari di kawasan tersebut. Faktor lainnya dalah perencanaan tata ruang yang belum optimal, kegagalan struktur dinding tanah dan keterlanjuran aktivitas manusia di atasnya. 

    Untuk tindak lanjutnya, KLHK akan melakukan review tata ruang dengan detail berbasis DAS, pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan pembuatan bangunan Konservasi Tanah dan Air (KTA) pada hulu sungai baik di dalam atau luar kawasan hutan. Kemudian untuk perkebunan teh yang mempunyai kelerengan tinggi agar ditanami pohon akar dalam. Sosialiasi, penyuluhan serta penegakan hukum terus dijalankan.

    Hilman mengharapkan penyelesaiannya harus dilakukan dengan baik, bila daerah hulu sudah bagus, bagian hilir juga harus dijaga dengan baik. Kawasan pemukiman juga perlu dikendalikan, harus ada imbal balik bagi lingkungan seperti membesarkan atau melebarkan sungai, terutama yg mendekati hilir.

    Sedangkan untuk banjir di DKI Jakarta, Direktur PEPDAS KLHK, Yuliarto menjelaskan hasil analisis penyebab banjir yang terjadi pada DAS Ciliwung. Terdapat 6 DAS yang mengepung DKI Jakarta, yaitu Angke-Pesanggarahan, Krukut, Ciliwung, Sunter, Buaran, dan Cakung. “Kontribusi Ciliwung ini hanya 25 persen terhadap banjir di DKI Jakarta, jika dilihat dari luasannya, berbeda dengan banjir besar 2013, dimana DAS yang lain juga ikut membanjiri Jakarta.”, kata Yuliarto.

    Pada saat sebelum terjadinya banjir, curah hujan di DKI Jakarta mencapai 152mm/hari selama 3 hari. Curah hujan yang di atas 100mm/hari ini dikategorikan dalam level yang tinggi. Banjir yang terjadi di Jakarta ini termasuk dalam kategori banjir genangan. Selain faktor curah hujan yang tinggi, berkurangnya daerah resapan di Jakarta juga mempengaruhi terjadinya banjir tipe ini.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.