Soal Persekusi Waria, Kiai Muhaimin: Isu Ini Terus Dipolitisasi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Negara Barbar dan Persekusi

    Negara Barbar dan Persekusi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, KH Abdul Muhaimin, prihatin maraknya persekusi terhadap waria. Salah satunya terjadi di Aceh belum lama ini. Menurut Muhaimin, persekusi dan tindakan menggunduli waria di Aceh merupakan imbas dari politisasi orang-orang yang terus menggoreng isu ini demi kepentingannya. “Isu ini terus dipolitisasi dan masyarakat belum siap,” kata Muhaimin ketika ditemui Tempo di Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Jumat, 2 Februari 2018.

    Kiai Muhaimin juga merupakan pembina Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Kotagede Yogyakarta. Ia mengatakan Islam mengenal orang berkelamin laki-laki yang berperilaku perempuan atau disebut khuntsa.

    Baca juga: Tangkap Waria, Kapolres Aceh Utara Masih Diperiksa Propam Polri

    Islam, kata dia, ramah dan memuliakan waria. Itu terlihat pada surat Al-Isra ayat 70, yang isinya memuliakan manusia sebagai bani Adam atau keturunan Nabi Adam. Ketentuan itu berlaku pula untuk waria sebagai makhluk Allah. Kemanusiaan dalam Islam final dan tidak bisa ditawar. Dengan begitu, kata Muhaimin, waria punya hak yang tidak bisa diganggu gugat, misalnya ketika mereka belajar agama.

    Sejak ponpes waria berdiri, Kiai Muhaimin aktif memberikan pemahaman tentang penerimaan waria lewat perspektif kemanusiaan berbasis tasawuf (ilmu mengenai cara menyucikan diri dan menjernihkan akhlak untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi).

    Ia berbicara dalam berbagai pengajian yang melibatkan ibu-ibu kampung. “Semula mereka kaget. Tapi lama-kelamaan mereka paham dan menerima waria,” kata Kiai Muhaimin.

    Pemimpin Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Kotagede Yogyakarta, Shinta Ratri, mengatakan masyarakat di sekitar tempatnya tinggal menerima keberadaan waria. Itu terlihat dari berbagai kegiatan sosial yang berjalan.

    Baca juga: Polisi: Diciduk di Aceh, 11 Waria Dipulangkan dan Sudah Macho

    Pengurus ponpes, menurut Shinta, hidup rukun dengan tetangga kanan-kiri. Mereka membaur dengan penduduk dan berkegiatan bersama, misalnya merayakan HUT RI dalam acara gerak jalan dan pentas tari. Bila ada acara pernikahan atau ada tetangga yang meninggal, Shinta datang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.