Minggu, 15 September 2019

Sinta Nuriyah: Gus Dur Merawat Kebudayaan yang Tersingkir

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Istri Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid (kanan) bersama tamu undangan berada diatas panggung saat peringatan Sewindu Haul Gus Dur di Jakarta, 22 Desember 2017. ANTARA

    Istri Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid (kanan) bersama tamu undangan berada diatas panggung saat peringatan Sewindu Haul Gus Dur di Jakarta, 22 Desember 2017. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Sinta Nuriyah, isteri Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengisahkan suaminya yang teguh merawat kebudayaan minoritas di Indonesia yang tersingkir.

    Cerita itu ia sampaikan pada acara memperingati sewindu wafatnya Gus Dur di kampus Sanata Dharma Yogyakarta, Senin malam,5 Februari 2018. Ini adalah puncak acara dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama sebulan.

    Baca juga: Prasasti di Makam Gus Dur Dibuka, Begini Isinya

    Semasa hidupnya, Gus Dur menghabiskan sebagian waktu untuk merajut dan merawat perbedaan budaya. Bagi Gus Dur, kata Sinta, kebudayaan menjadi cermin dasar kemanusiaan. Harkat dan martabat manusia bisa dilihat melalui kebudayaan. Gus Dur merajutnya melalui dialog, forum, seminar,sarasehan, silaturahmi ke tokoh lintas iman, tulisan di media massa, buku, obrolan, dan guyonan.

    Yang menarik dari Gus Dur, kata Sinta adalah dia mendamaikan berbagai macam perbedaan dan sabar merawat kebudayaan Indonesia. “Gus Dur merawat kebudayaan yang dianggap menghambat kemajuan, yang tersingkir,” kata Sinta.

    Sinta menambahkan sebagian orang menganggap sesuatu yang tradisional itu kolot, kuno, irasional, dan katrok. Orang menganggapnya tak sesuai zaman dan inferior. Padahal, yang tradisional dan modern bisa ditempatkan dalam posisi seimbang untuk menghasilkan gerakan kebudayaan yang harmonis menembus sekat-sekat antar-bangsa.

    Untuk merawat nilai-nilai yang ditinggalkan Gus Dur, Sinta terus aktif menyambangi daerah-daerah yang punya beragam seni budaya yang tidak banyak muncul. Misalnya Sinta keliling saat Puasa Ramadan untuk saur bersama di daerah-daerah. “Saya selalu minta pentas seni budaya ditampilkan bila ada di suatu daerah. Budaya adiluhung perlu kita jaga,” kata Sinta.

    Baca juga: Gusdurian Menyoroti Sosial Media, Keindonesiaan, Sikap Gus Dur

    Setidaknya 1.300 undangan datang untuk mengenang tokoh pluralisme itu. Banyak pegiat lintas agama yang datang di antaranya dari kalangan Islam, Katolik, Buddha, Konghucu, Hindu. Mereka merupakan aktivis yang bergerak di isu-isu toleransi antar-umat beragama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.