Tolak Sepeda, Pelajar Tunanetra Ini Dapat Laptop dari Jokowi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menunjukkan sertifikat tanah milik warga pada acara penerimaan sertifikat tanah untuk rakyat di Taman Lokasana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, 16 Januari 2018. Presiden melakukan kunjungan kerja ke sejumlah tempat di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat. ANTARA

    Presiden Jokowi menunjukkan sertifikat tanah milik warga pada acara penerimaan sertifikat tanah untuk rakyat di Taman Lokasana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, 16 Januari 2018. Presiden melakukan kunjungan kerja ke sejumlah tempat di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelajar asal Kupang, Andreas Saingo alias Ade, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi atas hadiah laptop yang diterimanya, pada 9 Januari 2018. "Terima kasih banyak kepada Bapak Presiden Jokowi atas pemberiannya yang luar biasa dan doa saya kiranya Tuhan senantiasa melindungi di setiap langkah," kata Ade dalam siaran tertulis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden yang diterima Tempo, Sabtu, 3 Februari 2018.

    Pemberian laptop itu bermula ketika Presiden melakukan kunjungan ke Kupang, pada 8 Januari 2018. Saat itu, Ade yang merupakan penyandang tunanetra, mampu melafalkan seluruh sila dari Pancasila. Namun, pelajar kelas 11 itu hanya tersenyum mendengar tawaran sepeda dari Presiden.

    Baca: Fahri Hamzah Beri Kartu Merah untuk Jokowi di Acara Alumni KAMMI

    Ade kemudian meminta hadiah sepeda itu ditukar dengan laptop. Jokowi pun mengiyakan permintaan tersebut. "Saya akan kirim ke rumah atau ke sekolah, paling lama besok," ucap Jokowi saat itu.

    Tak butuh waktu lama, seperangkat komputer portabel pun tiba di kediaman Ade. Pembimbingnya di SLB, Hendrik Taedini, mengungkapkan bahwa Ade sudah lama menginginkan laptop. Beberapa temannya di panti sudah mahir dalam mengoperasikan laptop. "Jadi mungkin ini doa dan harapan dia terjawab oleh Bapak Presiden Joko Widodo," kata Hendrik.

    Ade bersekolah di SLB Negeri Pembina Kupang. Sejak usia 14 tahun, dirinya sudah harus tinggal di sebuah panti tunanetra. Ayah Ade meninggal karena sakit pada 2005, saat dirinya berusia 11 tahun. Sedangkan ibunya meninggal dua tahun kemudian.

    Baca: Gerindra Juga Beri Kartu Kuning untuk Jokowi

    Sebagai seorang tunanetra, Hendrik melihat bahwa Ade merupakan anak yang kritis. Ia tidak ragu bertanya apa pun ketika dia tidak mengerti. "Sebagai seorang tunanetra memang dia cukup kritis. Sifatnya pendiam, tapi dalam proses pembelajaran anaknya cukup kritis di mana setiap pembelajaran berlangsung ketika ada hal baru dan belum dimengerti dengan baik dia tidak ragu untuk menanyakan," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.