Penganiayaan Guru oleh Siswa di Sampang, Pelaku Boleh Ikut UN

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perkelahian/kekerasan/penganiayaan. Shuttertock

    Ilustrasi perkelahian/kekerasan/penganiayaan. Shuttertock

    TEMPO.CO, Surabaya – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menyatakan prihatin atas penganiayaan terhadap Ahmad Budi Cahyono, guru SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, oleh muridnya berinisial MH. Apakah MH bisa ikut ujian nasional (UN) ?

    Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Saiful Rachman menjelaskan pelaku memperoleh haknya sebagai siswa untuk mengikuti UN.

    Baca juga: Siswa SMA Aniaya Guru di Sampang, Bupati: Nodai Citra Pendidikan

    "Dia (MH) ini masih tetap berstatus siswa, karena ini sudah mendekati ujian," kata Saiful Rachman, di Surabaya, Jumat 2 Februari 2018.

    MH merupakan siswa jelas XII SMAN 1 Torjun. Walau kepolisian tengah memeriksa dan proses hukum berjalan, sebagai siswa ia memiliki hak untuk mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang akan dilaksanakan pada 19-22 April 2018.

    "Anak ini sudah terdaftar di tingkat nasional sebagai peserta ujian nasional. Jadi, anak ini tetap bisa ikut ujian nasional," kata Saiful.

    Namun Saiful menegaskan, "Perlu digarisbawahi, UNBK ini bukan syarat kelulusan. Yang jadi syarat kelulusan adalah USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional)," tegasnya.

    Ia menjelaskan, yang berwenang menentukan kelulusan siswa adalah sekolah dan dewan guru. Salah satu syarat yang menentukan kelulusan seorang siswa adalah nilai perilaku. "Syaratnya minimal B. Kalau di bawah B dia tidak lulus," ujar dia.

    Saiful berharap kasus penganiayaan siswa terhadap guru yang berujung kematian di Sampang, Madura, menjadi yang terakhir terjadi di Jawa Timur maupun Indonesia.

    "Kami berharap, kasus ini yang pertama dan terakhir terjadi di Jatim. Ini pelajaran besar bagi dunia pendidikan, kita tentu tidak ingin ada kasus semacam ini lagi," tuturnya.

    Kasus penganiayaan itu terjadi di tengah proses belajar mengajar dalam mata pelajaran (mapel) kesenian di kelas XII SMAN 1 Torjun, pada Kamis 1 Februari 2018.

    Budi menegur MH yang tak menghiraukan instruksinya dalam mengajar, bahkan mengganggu kawan-kawannya yang lain. Karena tegurannya tak mempan, Budi mendatangi MH dan mencoretkan kuas bercat di wajah siswanya itu.

    Tak terima, MH menyerang dan melayangkan pukulan ke Budi. Pukulan siswa yang jago beladiri itu mengenai pelipis dan tengkuk sang guru honorer berusia 27 tahun tersebut.

    Sepulang ke rumah, Budi tak sadarkan diri. Keluarga lalu membawa Budi ke RSUD Dr Soetomo. Sekitar pukul 21.40 WIB, ia dinyatakan meninggal dunia lantaran mati batang otak akibat penganiayaan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.