Kata Waligereja Indonesia Soal Baksos Gereja yang Ditolak Ormas

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia menjawab pertanyaan media di Kantor PBNU, Jakarta, 15 Desember 2017.  Klaim sepihak Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dinilai melanggar hak kemanusiaan. Magang-TEMPO/ Naufal Dwihimawan Adjiditho

    Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia menjawab pertanyaan media di Kantor PBNU, Jakarta, 15 Desember 2017. Klaim sepihak Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dinilai melanggar hak kemanusiaan. Magang-TEMPO/ Naufal Dwihimawan Adjiditho

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Konferensi Wajigereja Indonesia sekaligus Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo mengatakan tudingan bahwa kegiatan bakti sosial di Gereja Santo Paulus di Bantul, Yogyakarta merupakan bentuk kristenisasi adalah tidak benar. Menurut Suharyo, kristenisasi bagi gereja Katolik terjadi di masa lampau.

    “Tudingan itu sudah pasti tidak benar. Kalau dari pihak gereja katolik, kristenisasi itu sudah masa lampau,” kata Suharyo kepada Tempo pada Jumat, 2 Februari 2018.

    Baca: Pernyataan Sri Sultan soal Baksos Gereja Dianggap Bermasalah

    Menurut Suharyo, bakti sosial bagi gereja katolik adalah wujud iman. Ia mengatakan, kegiatan bakti sosial tidak memandang latar belakang agama.

    Kegiatan yang dilakukan di Bantul itu, kata Suharyo, ditujukan sebagai respons atas lingkungan sekitar. “Iman diungkapkan dalam ibadah, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan. Dasarnya adalah bahwa kegembiraan dan harapan, keprihatinan serta kecemasan masyarakat adalah kegembiraan, harapan, keprihatinan dan kecemasan murid-murid Yesus juga,” kata dia.

    Baca: Baksos Gereja Ditolak Ormas, MUI: Seharusnya Ada Pelibatan Muslim

    Sebelumnya, Gereja Santo Paulus berencana menggelar kegiatan bakti sosial di rumah Kasmijo, Kepala Dusun Jaranan, Banguntapan, Bantul pada Ahad, 28 Januari 2018. Kegiatan itu merupakan rangkaian dari peringatan 32 tahun berdirinya gereja sekaligus peresmian paroki dari paroki administratif menjadi paroki mandiri.

    Namun sejumlah pemuda masjid dan organisasi kemasyarakat atau ormas yang mengatasnamakan Islam mendatangi bakti sosial ketika acara itu baru dimulai. Mereka menolak bakti sosial dengan alasan kristenisasi dan meminta panitia gereja memindahkan kegiatan itu di gereja.

    “Ada sekitar 50 orang dari ormas yang datang, di antaranya Front Jihad Islam. Demi menjaga suasana dan pertimbangan keamanan, kami membatalkan bakti sosial,” kata Ketua Panitia Acara, Agustinus Kelikasih.

    Bakti sosial tersebut sedianya akan diisi dengan menjual 185 paket sembako murah. Paket itu di antaranya terdiri dari beras, teh dan gula. Ada juga acara bersepeda bersama warga kampung. Selain bakti sosial, panitia gereja pada hari yang berbeda telah menggelar tirakatan, syukuran paseduluran dengan mengundang kalangan muslim. Ada juga ziarah ke sejumlah tokoh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.