Menteri Lukman Minta Kader Pemuda Muhammadiyah Jaga Islam Moderat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Danil Anzar dalam diskusi bertajuk Jangan Lelah Lawan Korupsi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, 10 November 2017.  TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Danil Anzar dalam diskusi bertajuk Jangan Lelah Lawan Korupsi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, 10 November 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Kongres Ulama Muda Pemuda Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Januari 2018. Dalam pidatonya, Menteri Lukman meminta ulama muda mengawal dan menjaga Islam yang moderat.

    "Kita semua harus mampu mengembalikan (pemahaman Islam) ke tengah. Itulah Islam wasathiyah, Islam yang di tengah-tengah,” ucapnya. Islam yang di tengah-tengah, kata Menteri, bermakna tidak ekstrem dan tidak berlebihan.

    Baca:
    Pemuda Muhammadiyah Gelar Kongres Ulama Muda
    Solider Rohingya, Pemuda Muhammadiyah...

    Lukman menjelaskan, dalam penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan di Kementerian Agama, muncul kecenderungan dua kelompok ekstrem, yaitu ekstrem kiri dan kanan, dalam memahami ajaran agama Islam. Sebagian orang, ujar Lukman, memahami Islam yang sangat bertumpu pada teks Al-Quran dan hadis.

    "Sangat mendewakan teks, menafikan kemampuan akal nalar.” Golongan ini memahami Islam hanya melalui bunyi Al-Quran, isi hadis, dan menolak konteks. “Mengabaikan lingkungan strategis, kenapa ayat itu diturunkan," tuturnya.

    Sebaliknya, ada sebagian orang yang begitu liberal dalam memahami agama. Mereka mendewakan serta mengagungkan akal, nalar, dan pikiran, sehingga mengabaikan teks sama sekali, seperti Al-Quran dan hadis. "Mereka yang terlalu konservatif sama bahayanya dengan mereka yang terlalu liberal dalam memahami agama," katanya.

    Baca juga: Pemuda Muhammadiyah: Pemerintah-HTI...

    Menteri Lukman menilai metodologi dalam memahami ajaran agama, baik secara teks maupun nalar, sebetulnya sama-sama pentingnya dalam rangka melengkapi dan mengisi satu sama lain. Namun ia menyayangkan adanya pihak yang ingin dengan sengaja membenturkan, sehingga energi umat Islam hanya habis dan tersita untuk urusan itu. Padahal perdebatan sejak ratusan tahun lalu itu tidak akan pernah selesai dan bukan sesuatu yang harus dibenturkan.

    Ia mencontohkan lelaki yang mengenakan celana panjang. “Di atas mata kaki atau menutupi mata kaki masing-masing punya hujjah sendiri.” Perbedaan itu, ujar Menteri, bukan untuk dibenturkan karena lebih benar atau salah. “Energi umat sebaiknya digunakan untuk hal-hal strategis terkait dengan keumatan, pendidikan, dan ekonomi," tutur Menteri Lukman di hadapan kader Pemuda Muhammadiyah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.