SMRC: Jatah di Kabinet Jokowi Dongkrak Elektabilitas Golkar

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto berpose bersama sejumlah pengurus baru Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 22 Januari 2018. TEMPO/Subekti.

    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto berpose bersama sejumlah pengurus baru Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 22 Januari 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Saiful Mujani Reserch Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan bahwa bertambahnya kursi Partai Golkar di kabinet Presiden Joko Widodo secara tidak langsung mendongkrak elektabillitas Golkar. "Secara tidak langsung berpengaruh dengan semakin dekatnya sosok Jokowi di Golkar," ujarnya di Jakarta, Kamis 25 Januari 2018.

    Partai Golkar mendapatkan kursi tambahan di kabinet setelah ditunjuknya mantan Sekjen Parti Golkar Idrus Marham sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Selain itu kedekatan Golkar dengan Presiden Jokowi terlihat dari rangkap jabatan oleh petinggi Golkar termasuk Ketua Umum Airlangga Hartarto.

    Baca:
    LSI: PDIP, Golkar dan Gerindra Partai Papan Atas Pilpres 2019
    LSI: Ini Penyebab Elektabilitas PDIP dan Golkar Naik

    Djayadi mengatakan dengan positifnya persepsi publik kepada kinerja Presiden Jokowi juga akan berdampak terhadap Partai Golkar. Sejauh ini lanjut Djayadi, Partai Golkar merupakan salah satu partai yang sudah terang-terangan memberikan dukungan untuk Presiden Jokowi di 2019.

    PDIP, kata Djayadi, juga membutuhkan Golkar agar Partai Golkar dengan elektabilitasnya yang membaik sejak pergantian ketua umum tidak berpaling dan membentuk poros baru.

    Baca juga:
    Golkar Unggul di Survei LSI, Gerindra: Itu Tak Representatif
    Kasus Setya Bikin Elektabilitas Golkar Tersisa 7 ...

    Pembenahan dalam tubuh Partai Golkar, kata Djayadi, juga mendongkrak elektabilitas setelah terpuruk akibat kasus E KTP yang menjerat mantan ketua umum Setya Novanto. "Kehadiran ketua umum baru, dan membangun partai yang lebih bersih berhasil menaikan elektabilitas Golkar," ujarnya.

    Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memperkirakan tiga partai akan memimpin Pemilihan Presiden 2019 (Pilpres). Tiga partai itu adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dipilih oleh 22,2 persen responden, Partai Golongan Karya (Golkar) dipilih 15,5 persen responden, dan Partai Gerindra 11,4 persen responden dari 1200 orang yang disurvei.

    Pendiri LSI, Denny JA menyatakan "partai papan atas" adalah partai yang elektabilitasnya di atas 10 persen. “PDIP, Golkar dan Gerindra konsisten di atas 10 persen dalam lima survei terakhir yang dilakukan LSI.” Denny JA menyampaikannya melalui siaran pers yang diterima Tempo, Rabu 24 Januari 2018.

    TAUFIQ SIDDIQ | ALFAN HILMI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.