Setya Novanto Akan Ungkap Aktor Besar di Kasus E-KTP

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto berbincang dengan penasihat hukumnya Maqdir Ismail saat menjalani sidang lanjutan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, 22 Januari 2018. ANTARA

    Terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto berbincang dengan penasihat hukumnya Maqdir Ismail saat menjalani sidang lanjutan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, 22 Januari 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya mengatakan kliennya sedang menulis nama dan peran aktor lain yang akan diungkap dalam kasus korupsi proyek e-KTP. Hal tersebut dilakukan sebagai proses pengumpulan fakta-fakta hukum terkait dengan pengajuan justice collaborator atau saksi pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum untuk kliennya.

    Firman belum berkenan menjelaskan siapa aktor yang dimaksud. "Yang jelas proyek e-KTP, bukan proyek pribadi Pak Nov," kata dia di gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan pada Rabu, 24 Januari 2018.

    Baca: KPK Telisik Keterlibatan Setya Novanto di Kasus Fredrich Yunadi

    Firman mengatakan kliennya sedang berusaha memenuhi syarat-syarat untuk menjadi justice collaborator. Ia menganggap kliennya selama ini telah kooperatif mengikuti proses hukum. Selain itu, dia mengatakan mantan Ketua Fraksi Partai Golkar itu akan membeberkan perannya dalam penganggaran proyek e-KTP di DPR.

    Terkait syarat bukan pelaku utama, Firman mengatakan kliennya bukan orang yang mengusulkan proyek bernilai Rp 5,8 triliun tersebut. Dia mengatakan ada pihak lain yang yang punya kewenangan lebih dalam korupsi tersebut. "Dari 2 triliun menjadi 5 triliun (nilai proyek e-KTP) tentu butuh high level policy. Siapa? Kita tunggu," kata dia.

    Setya Novanto didakwa oleh jaksa penuntut umum KPK berperan dalam meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR pada medio 2010-2011 saat dirinya masih menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar. Atas perannya, Setya Novanto disebut menerima total fee sebesar US$ 7,3 juta. Dia juga diduga menerima jam tangan merek Richard Mille seharga US$ 135 ribu. Setya Novanto didakwa melanggar Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 tentang Tindak Pidana Korupsi.

    Baca: Laode KPK: Ajukan Justice Collaborator, Setya Novanto Akui Salah

    Kini, Setya Novanto sedang mengajukan permohonan menjadi justice collaborator. Seperti yang diketahui, syarat-syarat untuk menjadi JC di antaranya mengakui perbuatan, bersedia terbuka menyampaikan informasi yang benar tentang dugaan keterlibatan pihak lain yaitu aktor yg lebih tinggi atau aktor intelektual atau pihak-pihak lain yang terlibat dan pemohon bukan merupakan pelaku utama dalam perkara.

    Bagi yang menerima justice collaborator, seorang pelaku dapat dipertimbangkan untuk menerima tuntutan hukuman lebih ringan. Setelah itu, ketika menjadi terpidana, justice collaborator bisa menerima pemotongan masa tahanan dan hak-hak narapidana lain yang bisa diberikan secara khusus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hypermarket Giant dan Tiga Retail yang Tutup 2017 - 2019

    Hypermarket Giant akan menutup enam gerainya pada Juli 2019. Selain Giant, berikut gerai ritel yang yang bernasib sama dalam dua tahun terakhir.