Gara-gara Gempa Lebak, Setya Novanto Bolak-balik ke Gedung KPK

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto berbincang dengan penasihat hukumnya Maqdir Ismail saat menjalani sidang lanjutan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, 22 Januari 2018. ANTARA

    Terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto berbincang dengan penasihat hukumnya Maqdir Ismail saat menjalani sidang lanjutan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, 22 Januari 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, JakartaGempa 6,4 SR yang dirasakan di Jakarta ikut membuat pemeriksaan Setya Novanto di Gedung KPK tertunda. Awalnya Setya Novanto datang ke gedung Merah Putih KPK pada pukul 12.50.

    Setya Novanto datang mengenakan rompi tahanan KPK. Ia memegang buku dengan sampul warna hitam bertuliskan angka 2018. Saat datang, Setya tak berbicara apa pun kepada awak media.

    Sekitar pukul 13.35, gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter terjadi di 81 kilometer barat daya Lebak, Banten dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa sempat membuat pegawai KPK yang berada dalam gedung berhamburan keluar.

    Baca juga: Jaksa KPK Cecar Andi Narogong Soal Peran Setya Novanto

    Sekitar pukul 14.10 Setya kemudian keluar dari gedung KPK. Dia mengatakan ikut merasakan guncangan gempa. Kepada wartawan dia mengaku rencananya akan diperiksa untuk tersangka perkara obstruction of justice, Fredrich Yunadi yang tak lain adalah bekas pengacaranya.

    "Goyang-Goyang. Ditunda," katanya menjawab pertanyaan wartawan tentang pemeriksaan, Selasa, 23 Januari 2018.

    Tak berselang lama setelah gempa, pada pukul 14.34 Setya Novanto kembali datang ke gedung KPK. Sambil tersenyum, mantan Ketua DPR RI itu menjawab santai pertanyaan wartawan tentang kedatangannya kembali "Ya kangen sama kawan-kawan wartawan," katanya.

    Setya Novanto merupakan terdakwa dalam kasus korupsi proyek bernilai Rp 5.84 triliun. Akibat ulahnya dengan beberapa pihak dalam korupsi tersebut, negara diperkirakan merugi Rp 2,3 triliun.

    Seperti yang tertulis dalam surat dakwaan, Setya Novanto diduga menerima total fee sebesar US$ 7,3 juta dari perannya meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR. Selain uang dia juga diduga menerima jam tangan mewah merek Richard Mille seharga US$ 135 ribu.

    Baca juga: Sidang E-KTP, Hakim Dibuat Kesal oleh Jawaban Made Oka Masagung

    Fredrich Yunadi sendiri ikut terjerat dalam perkara Setya Novanto. Bersama dengan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga merintangi penyidikan Setya Novanto.

    Fredrich bersama Bimanesh diduga memaninipulasi data medis atas kecelakaan yang menimpa Setya Novanto pada 16 November 2017. Manipulasi dilakukan guna menghindarkan Setya Novanto dari pemeriksaan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.