Alasan Dewan Etik Beri Sanksi Ringan untuk Ketua MK Arief Hidayat

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kanan, juru bicara Mahkamah Konstitusi (MK), Fajar Laksono, Ketua Dewan Etik MK Achmad Rustandi dan anggota Dewan Etik MK Salahuddin Wahid saat konferensi pers di gedung MK jalan Merdeka Barat No. 6, Gambir, Jakarta, 16 Januari 2018. Tempo/M. Yusuf Manurung

    Dari kanan, juru bicara Mahkamah Konstitusi (MK), Fajar Laksono, Ketua Dewan Etik MK Achmad Rustandi dan anggota Dewan Etik MK Salahuddin Wahid saat konferensi pers di gedung MK jalan Merdeka Barat No. 6, Gambir, Jakarta, 16 Januari 2018. Tempo/M. Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Etik Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menjatuhkan sanksi teguran lisan kepada Ketua MK Arief Hidayat. Arief terbukti melakukan pelanggaran ringan terhadap kode etik karena menghadiri pertemuan dengan beberapa pimpinan Komisi III DPR di Hotel Ayana MidPlaza, Jakarta, tanpa tanpa adanya undangan resmi.

    Dewan Etik menyatakan bahwa Arief tidak terbukti melakukan lobi-lobi dengan anggota DPR terkait pencalonannya kembali menjadi hakim Mahkamah Konstitusi pada November 2017.

    Baca: Dewan Etik Beri Sanksi Ringan kepada Ketua MK Arief Hidayat

    "Kami berkesimpulan tidak terbukti terjadi lobi. Jadi tidak ada alasan untuk menyatakan pelanggaran berat," kata anggota Dewan Etik MK Salahuddin Wahid di kantor MK pada Selasa, 16 Januari 2018.

    Salahuddin mengatakan, sebelum menjatuhkan sanksi, Dewan Etik menghadirkan beberapa anggota Komisi III DPR untuk diminta keterangan. Anggota Komisi III DPR yang memenuhi undangan yakni Arsul Sani, Trimedya Panjaitan dan Desmond Mahesa Junaedi. Sedangkan yang tidak hadir adalah Benny Kabur Harman, Hasrul Azwar, Mulfachri Harahap dan Bambang Soesatyo yang saat ini menjadi Ketua DPR.

    Salahuddin mengatakan, dari tiga anggota Komisi III yang hadir, hanya satu orang yang mengakui adanya lobi yakni Desmond Mahesa Junaedi. "Tetapi itu dibantah oleh dua yang lain," katanya.

    Baca: Anggota Dewan Etik MK: Arief Hidayat Membantah Ada Lobi ke DPR

    Sebelumnya, Arief diduga melakukan lobi dalam pencalonannya kembali menjadi ketua MK. Dalam laporan majalah Tempo edisi 4 Desember 2017, Arief diduga melobi pemimpin Komisi III hingga pemimpin fraksi di Dewan agar mendukungnya sebagai calon tunggal hakim konstitusi.

    Kepada Tempo, Desmond Mahesa Junaedi membenarkan adanya lobi-lobi Arief. Dia mengatakan bahwa Arief mencoba menawarkan kelanjutan hak angket DPR terhadap KPK sebagai pengganti dukungan.

    Dengan sanksi itu, Arief telah dua kali melanggar kode etik. Pada tahun 2015 dia berurusan dengan Dewan Etik ketika terlibat dalam kasus katabelece jaksa. Dewan Etik yang saat itu dipimpin Abdul Mukhtie Fadjar menjatuhkan sanksi teguran lisan kepada Arief.

    Arief Hidayat terbukti memberikan katabelece kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan Widyo Pramono. Katabelece itu terkait permintaan Arief kepada Widyo untuk memberikan perlakuan khusus kepada kerabatnya yang menjadi jaksa di Kejaksaan Negeri Trenggalek.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.