Pilkada 2018 di Jawa Dianggap Kunci Menuju Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo, berjalan bersama Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto (kiri), usai pertemuan tertutup di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, 29 Januari 2015. Jokowi dan Prabowo, bertemu dalam rangka silahturahim dan membicarakan masalah terkini bangsa. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Presiden Joko Widodo, berjalan bersama Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto (kiri), usai pertemuan tertutup di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, 29 Januari 2015. Jokowi dan Prabowo, bertemu dalam rangka silahturahim dan membicarakan masalah terkini bangsa. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan pemilihan kepala daerah di Pulau Jawa merupakan salah satu kunci pemilihan presiden 2019 (Pilpres 2019). Kuatnya korelasi antara keduanya inilah yang membuat PKS dan PAN sampai menceraikan Deddy Mizwar karena membuat pakta integritas untuk mengusung calon presiden usungan Demokrat di 2019.

    "Satu fakta politik yang tak terbantahkan, kalau Anda jadi gubernur maka jangan lupa siapa presidennya," kata Pangi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat pada Kamis, 11 Januari 2018.

    Baca: Survei: Duel Jokowi Vs Prabowo Bisa Terulang di Pilpres 2019

    Menurut Pangi, korelasi tersebut juga dapat dilihat pada peta politik Pilpres 2014 lalu, saat Prabowo menang di daerah Jawa Barat yang gubernurnya adalah Ahmad Heryawan. Begitu pula dengan kemenangan Jokowi di Jawa Tengah, dengan gubernurnya kader PDIP Ganjar Pranowo. "Ketika Jokowi menang di Banten, lihat gubernurnya Rano Karno, apalagi di Jakarta," kata dia.

    Menurut Pangi, saat itu hanya suara di Jawa Timur yang agak berimbang karena gubernurnya adalah Soekarwo yang merupakan kader poros tengah Partai Demokrat.

    Untuk itu, Pangi melanjutkan, manuver politik yang dia sebut dengan istilah politik dua kaki Jokowi di Pilkada 2018, di mana partai pendukung Jokowi mencalonkan gubernur yang berbeda di Pulau Jawa, sangat tepat untuk memuluskan langkah Jokowi sebagai inkumben di Pilpres 2019.

    Baca: Kaleidoskop 2017:Jokowi Vs Prabowo Serta Rebutan Kursi Cawapres

    Politikus PDIP Andreas Hugo Parerira pun tidak membantah soal politik dua kaki yang disebut Pangi. "Bukan hanya dua kaki, untuk menang Jokowi harus pasang empat sampai lima kaki," kata Andreas di lokasi yang sama.

    Di lain pihak, Politikus PAN Yandri Susanto menilai dengan kemenangan koalisinya di Pilkada Jakarta dan Pilkada Banten tahun lalu, Jokowi sudah 2-0 dengan Prabowo. "Tinggal melihat di tiga Jawa ini saja, kalau sudah 4-0 itu lampu kuning, maka Jokowi harus berpikir ulang untuk mencalonkan diri lagi," kata Yandri.

    Sementara itu, politikus Demokrat Roy Suryo menilai segala kemungkinan bisa terjadi di Pilpres 2019 seperti halnya Pilkada DKI Jakarta lalu. "Di saat semua orang memprediksi Ahok yang pasti menang, kenyataannya lain," kata dia.

    Roy tidak menampik jika Pilkada Jawa akan berpengaruh besar terhadap hasil Pilpres 2019. Dia menyebut, partainya akan berusaha untuk bersikap idealis dengan mengusung kader internal partai, bila tidak memungkinkan maka akan realistis untuk berkoalisi dengan partai lain. Jika tidak memungkinkan juga, kata dia, maka minimalis saja. "Asal jangan pragmatis dan oportunis," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.