Maqdir Ismail: Fredrich Yunadi Harusnya Diadili dengan Kode Etik

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi (tengah) diwawancarai setelah keluar dari gedung RSCM Kencana, Jakarta Pusat, 17 November 2017. Selama pembantaran penahanan itu, Setya Novanto akan berada dalam proses perawatan di RSCM dengan penjagaan tim KPK dan Kepolisian RI. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi (tengah) diwawancarai setelah keluar dari gedung RSCM Kencana, Jakarta Pusat, 17 November 2017. Selama pembantaran penahanan itu, Setya Novanto akan berada dalam proses perawatan di RSCM dengan penjagaan tim KPK dan Kepolisian RI. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara terdakwa dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto, Maqdir Ismail, prihatin terhadap kasus yang menjerat koleganya, Fredrich Yunadi. Menurut Maqdir, seharusnya Fredrich diperiksa terlebih dahulu oleh organisasi advokat tempat dia bernaung sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    "Seharusnya diperiksa dulu oleh organisasi, dia (Fredrich) melanggar kode etik atau tidak," kata Maqdir saat dihubungi Tempo, Kamis, 11 Januari 2018.

    Fredrich, kata Maqdir, seharusnya diadili dengan kode etik advokat. Hal itu untuk mengukur apakah Fredrich sudah membela kliennya sesuai dengan kode etik atau memang menghalangi proses penyidikan Setya seperti yang disangkakan KPK.

    Baca: KPK Naikkan Status Perkara Fredrich Yunadi

    Sehingga apakah Fredrich melanggar kode etik atau tidak, menurut Maqdir, majelislah yang berhak memutuskan. Wewenang mengadili, ucap Maqdir, ada pada majelis kode etik organisasi advokat tersebut.

    "Sebab, Pak FY (Fredrich Yunadi) itu menjalankan tugasnya sebagai penasihat hukum. Penasihat hukum tidak identik dengan klien," ujarnya.

    Fredrich adalah mantan pengacara Setya. KPK menetapkan Fredrich sebagai tersangka atas dugaan melakukan obstruction of justice atau merintangi kasus penanganan e-KTP.

    Simak: KPK Geledah Kantor Fredrich Yunadi

    KPK menduga Fredrich dan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, melakukan tindak pidana merintangi atau menggagalkan penyidikan dalam perkara kasus e-KTP dengan tersangka Setya.

    "FY dan BST diduga bekerja sama memasukkan tersangka SN (Setya Novanto) ke rumah sakit untuk dilakukan rawat inap dengan data-data medis, yang diduga dimanipulasi," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di kantornya, Rabu, 10 Januari 2018.

    Lihat: KPK Cekal Bekas Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi

    Basaria berujar manipulasi data medis dilakukan setelah Setya mengalami kecelakaan pada 16 November 2017. Tujuannya menghindari panggilan dan pemeriksaan terhadap Setya oleh penyidik KPK.

    Setya mengalami kecelakaan mobil di kawasan Permata Hijau pada 15 November 2017. Malam itu, mobil yang ditumpangi Setya menabrak tiang listrik. Akibatnya, Setya segera dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Padahal, kata Basaria, Setya diagendakan diperiksa sebagai tersangka atas dugaan korupsi e-KTP pada hari itu.

    LANI DIANA | YUSUF MANURUNG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.