Polisi Ungkap Kasus Pencabulan Santri di Cimahi dan Soreang

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi (atoday.com)

    Ilustrasi (atoday.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus pencabulan anak terungkap di Jawa Barat. Kali ini pencabulan terjadi di pesantren yang berada di Cimahi, dan Soreang. “Ada dua kejadian lagi di Soreang dan Cimahi,” kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Agung Budi Maryoto di Bandung, Rabu, 10 Januari 2018.

    Agung mengatakan, kasus di Kota Cimahi melibatkan guru di salah satu pesantren berinisial AR, yang mencabuli santrinya. “Modusnya pura-pura memanggil mau diobati, lalu terjadi pelecehan sampai dengan persetubuhan,” kata dia.

    Baca juga: Tergiur Sate Ayam, Siswi SD Dicabuli Sebelum Sekolah

    Agung mengatakan, orang tua korban baru melaporkan kejadian yang menimpa putrinya pada polisi kemarin, Selasa, 9 Januari 2018. Saat ini kasus ditangani oleh Polres Cimahi. “Yang sudah mengadukan satu orang, tapi setelah diperiksa ternyata ada 5 temannya (yang menjadi korban),” kata dia.

    Kasus kedua di Soreang. “Sama juga. Di salah sat pesantren, ustad inisial AL. mengobati, dipijit dan lain sebagainya lalu terjadi persetubuhan. Korban telah kami periksa, dan visum. Kami proses dan temannya mengadu juga, ada 4 lagi (korbannya),” kata Agung.

    Agung mengatakan, pelaku dalam dua kasus tersebut sudah ditahan polisi. “Sekarang kami tahan,” kata dia.

    Seluruh korban anak dalam dua kasus tersebut saat ini tengah menjalani pendampingan dan penangan psikis bekerjasama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA). “Korban kami simpan di suatu rumah. Betul-betul harus kita lindungi, jangan sampai jadi korban untuk kedua kali. Mohon untuk tidak didatangi,” kata Agung.

    Kepala Kepolisian Resor Cimahi Ajun Komisaris Besar Rusdi Permana Suryanagara mengatakan, pelaku pencabulan anak atas nama AR, 43 tahun, berstatus guru pesantren tempat korban bersekolah. Aksi pencabulan dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk di pesantren. Sementara korban, semua muridnya yang tinggal di asrama pesantren tersebut. “Asrama itu kurang lebih 70 orang penghuninya,” kata dia.

    Rusdi mengatakan, pelaku mengaku bisa mengobati korban yang saat itu mengeluhkan sakit. “Dengan bujuk rayu, tipu muslihatnya, mengaku bisa menyembuhkan sakit yang diderita, ataupun memberikan ilmu. Bujuk rayu itu digunakan untuk mencabuli korbannya,” kata dia.

    Menurut Rusdi, orang tua korban melaporkan kejadian itu. “Kurang dari 24 jam pelaku diamankan. Dari pengembangan hingga saat ini sudah ada 7 korban,” kata dia. “Kami masih dalami karena kemungkinan masih ada korban lainnya.”

    Rusdi mengatakan, polisi menggunakan pasal 81 dan 82 juncto pasal 65 Undang-Undang Perlindungan Anak. “Ancaman hukukman maksimalnya 15 tahun penjara,” kata dia.

    Baca juga: Bocah 5 Tahun Jadi Korban Pencabulan, Diiming-imingi Koin Rp 500

    Kepala Satuan Reserse dan Kriminal, Kepolisian Resor Bandung, Komisaris Firman Taufik mengatakan, pasal yang sama dipergunakan polisi untuk kasus pencabulan anak di Soreang, Kabupaten Bandung. “Korban sementara yang mengadu 1 orang. Dari hasil pemeriksaan ada 4 orang lagi yang menyatakan sebagai korban pelaku, MFA, 31 tahun,” kata dia di Bandung.

    Firman mengatakan, pelaku merupakan pimpinan pesantren tempat korbannya bersekolah. “Modusnya disuruh membersihkan kamar kepala sekolah. Kebetulan kamar itu ada di atas asrama putri,” kata dia.

    Orang tua korban melaporkan kejadian itu pada 3 Januari 2018 lalu. “Korban melaporkan (mengalami pencabulan) sejak bulan Mei 2018 sampai dengan November 2018. Pengakuan korban hampir 10 kali, tapi pelaku menyatakan baru 5 kali,” kata Firman.

    Firman mengatakan, korban sempat mendapat ancaman pelaku. “Dia dapat ancaman, karena dia sedang dalam masa persiapan UNBK. Disampaikan nanti jangan sampai yang lain tahu, karena masih akan ujian, nanti terhambat segala macam,” kata dia.

    Baca juga: Guru Bimbel Ini Ungkap Pencabulan terhadap Siswi SD

    Penelusuran polisi mendapati masih ada 4 korban yang mengalami kejadian serupa saat tinggal di asrama pesantren yang dihuni sekitar 300 orang itu. “Ada yang kakak kelasnya, ada yang teman satu angkatan korban. Ada yang sudah lulus juga,” kata Firman.

    Firman mengatakan, kemungkinan pelaku pencabulan sudah melakukan aksinya sejak lama. “Menurut pengakuan salah satu tersangka, ia mengalaminya pada 2015,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.