Kemenkes Akan Kembali Melaksanakan ORI Difteri pada Januari 2018

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menunjukan vaksin yang mengandung komponen difteri sebelum didistribusikan, di Bandung, 18 Desember 2017. Bio Farma menambah stok kebutuhan vaksin yang mengandung komponen difteri seperti vaksin DT, Td, dan DTP-HB-Hib untuk memutus penularan. ANTARA

    Pekerja menunjukan vaksin yang mengandung komponen difteri sebelum didistribusikan, di Bandung, 18 Desember 2017. Bio Farma menambah stok kebutuhan vaksin yang mengandung komponen difteri seperti vaksin DT, Td, dan DTP-HB-Hib untuk memutus penularan. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan RI akan melaksanakan outbreak response immunization (ORI) gelombang kedua yang merupakan imunisasi terhadap wabah Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri pada Januari 2018. Sebelumnya, Kemenkes sudah melakukan ORI di bulan Desember 2017.

    "ORI Difteri perlu dilakukan tiga kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi, Sabtu, 6 Januari 2018.

    Baca juga: Imunisasi Difteri Diperluas, Menkes: Persediaan Vaksin Cukup

    Selanjutnya, kata Oscar ORI putaran ketiga akan dilanjutkan enam bulan kemudian. Dia mengimbau kepada orang tua yang memiliki anak berusia 1 hingga 19 tahun dan belum mendapatkan ORI pertama, untuk segera menghubungi petugas kesehatan agar mendapatkan imunisasi tersebut. "Ini bisa dilaksanakan bersamaan dengan ORI putaran kedua, bagi anak yang telah mendapatkan ORI sebulan yang lalu," ujar dia.

    ORI putaran kedua akan dilakukan di sekolah, Posyandu, Puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. "Tentu perlu kerjasama dan partisipasi orangtua untuk mengambil langkah cepat mengendalikan difteri," tutur Oscar.

    Pencegahan difteri yang paling utama adalah dengan imunisasi. Di Indonesia program imunisasi difteri sudah dilakukan sejak lebih dari 5 dasa warsa. Vaksin untuk imunisasi difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan.

    Baca juga: Pemerintah Dinilai Belum Efektif dalam Pemberantasan Difteri

    Selanjutnya, diberi Imunisasi Lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas-1 diberikan 1 dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas-2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

    Keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95 persen. Munculnya wabah (KLB) difteri kemungkinan karena immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.