Alissa Wahid Cemaskan Sentimen Agama dalam Pilkada dan Pilpres

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid, bersama Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid, bersama Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yoyakarta - Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Munawaroh atau Alissa Wahid mencemaskan gejala menguatnya sentimen agama dan kebencian dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. “Sampah kebencian dan keagamaan oleh tim sukses paling mencemaskan,” kata Allisa seusai jumpa pers mengatasi kesenjangan sosial bersama tokoh Muhammadiyah, NU, dan organisasi Indonesia Tionghoa di Yogyakarta, Rabu, 3 Januari 2018.

    Menurut puteri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini sentimen agama dan kebencian makin lama makin kuat sejak 2005. Sentimen-sentimen itu dihembuskan sesuai dengan kepentingan politik. Allisa menyebut sentimen agama dan kebencian itu sebagai sentimen musiman, tergantung siapa yang berkepentingan dan menggorengnya untuk publik.

    Baca:
    Survei LSI: Sentimen Agama Menentukan di Pilkada DKI

    PDIP Siap Menghadapi Isu Agama di Pilkada ...

    Jaringan Gusdurian mencontohkan sentimen musiman itu. Pada 2005-2012, sentimen yang disebarkan adalah anti-Ahmadiyah. Lalu pada 2010 terjadi kebencian pada Syiah. Pada 2013 hingga sekarang, sentimen yang dijalankan adalah kebencian pada Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender (LGBT), Cina, anti-asing, dan komunis. Mengapa sentimen-sentimen itu efektif dijalankan? “Itu karena menyangkut agama dan keadilan sosial Indonesia,” kata Allisa.

    Jaringan yang dikenal aktif menjaga keberagaman antar-umat itu juga memetakan adanya narasi yang kuat yang menggiring rezim pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai rezim anti-Islam. Padahal, Presiden Jokowi sangat akomodatif terhadap kalangan muslim. Itu terlihat dari bagaimana Jokowi seringkali mengunjungi kiai, tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU, serta pondok pesantren.

    Sentimen agama dan kebencian itu, kata Allisa sangat membahayakan situasi politik Indonesia. Para politikus begitu terpilih duduk bersama dengan rivalnya. Tapi, sampah kebencian masih terasa kuat. Hal itu, kata Allisa tergambar pada Pilkada DKI Jakarta.

    Baca juga:
    Review 2018: Agar Pilkada di Jawa Tak Kena ...
    Kaleidoskop 2017: Setelah Pilkada Rasa Sara ...

    Menurut Alissa, sentimen agama laku dijual dalam Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Ia mengutip survei yang diterbitkan lembaga riset global Pew Research Center pada Oktober 2017. Penelitian itu menjelaskan seberapa penting pengaruh agama bagi masyarakat Indonesia.

    Sebanyak 93 persen responden Indonesia menyatakan agama sangat berpengaruh pada kehidupan mereka. Celakanya, sebagian besar orang Indonesia masih bergantung pada kuatnya identitas kelompok. Dalam demokrasi, kata Allisa, yang dihitung hak individu. “Tapi, identitas kelompok masih kuat di Indonesia,” kata Alissa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.