Jumat, 16 November 2018

Hendropriyono: 2019, Presiden dan Wapresnya Beraliran Nasaeb

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Abdullah Makhmud Hendropriyono saat mendeklarasikan dukungan kepada Joko Widodo, di halaman kantor DPP PKPI, Menteng, Jakarta, 12 Juni 2017. Tempo/Yohanes Paskalis

    Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Abdullah Makhmud Hendropriyono saat mendeklarasikan dukungan kepada Joko Widodo, di halaman kantor DPP PKPI, Menteng, Jakarta, 12 Juni 2017. Tempo/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono mengatakan calon presiden pilihan rakyat pada masa depan adalah kombinasi nasionalis dan agamis dengan usia yang masih muda. Menurut Hendropriyono, dirinya tak siap jika dicalonkan pada Pilpres 2019.

    “Dulu waktu saya masih muda bisa dibilang siap. Sekarang tidak, karena sudah tua,” kata Hendropriyono usai konsolidasi internal Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia, di Yogyakarta, Sabtu malam, 30 Desember 2017.

    Baca juga: Alasan Hendropriyono, PKPI Dukung Jokowi Maju ke Pilpres 2019

    Ia yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia ini menyatakan ramalan deduktif presiden terpilih adalah yang masih muda. Orangnya nasionalis dan didukung oleh partai nasionalis kebangsaan. Calon presiden itu juga harus didukung oleh calon wakilnya yang berbasis ekonomi dan agamis. “Calon presiden harus muda, yang punya basis nasionalis kebangsaan. Dan didukung partai kebangsaan, sipil,” kata Hendropriyono.

    Masyarakat, kata dia hanya ingin aman dan sejahtera. Untuk itu calon presiden harus punya wawasan kebangsaan dan nasionalis. Wakilnya adalah orang yang berbasis agama dan berbasis ekonomi dan bisnis yang kuat dalam memberi kebijakan untuk menyejahterakan rakyat. “Ikonnya adalah Nasaeb, nasionalis, agamis, ekonomi dan bisnis,” kata dia.

    Baca juga: Dukungan PKPI di Pilpres 2019, Hendropriyono Belum Temui Jokowi  

    Saat ditanya apakah masih mempertahankan Joko Widodo untuk maju menjadi calon presiden mendatang, ia tak mau secara terang-terangan. Namun ia bertanya apakah dia masih muda atau tidak. Ia juga tidak mau menyebut siapa calon presiden dan calon wakilnya. “Jangan mendahului Tuhan,” kata Hendropriyono.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.