Cerita Khofifah Soal Pesan Gus Dur Melindungi Minoritas

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Istri Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid (kedua kanan) bersama tamu undangan berada di atas panggung saat peringatan Sewindu Haul Gus Dur di Jakarta, 22 Desember 2017. Acar ini digelar untuk memperingati delapan tahun wafatnya Presiden Keempat RI. ANTARA

    Istri Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid (kedua kanan) bersama tamu undangan berada di atas panggung saat peringatan Sewindu Haul Gus Dur di Jakarta, 22 Desember 2017. Acar ini digelar untuk memperingati delapan tahun wafatnya Presiden Keempat RI. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri sosial yang juga Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa mengaku selalu terkenang dengan sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang berpesan untuk selalu melindungi minoritas.

    "Suatu saat ketika Gus Dur menjadi Presiden dan beliau memberikan pidato di Amerika, Gus Dur menyampaikan 'Di negeri saya, saya melindungi minoritas, tolong di negeri Anda lindungi minoritas," katanya saat pidato dalam peringatan delapan tahun wafatnya Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis 28 Desember 2017 malam.

    Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional,Merawat Kebhinekaan, NKRI dan Pancasila

    Ia mengatakan, pesan yang disampaikan Gus Dur tersebut memang sangat mendalam. Hal itu juga sesuai dengan yang dilakukan dan diajarkan Gus Dur selama ini, yaitu mencintai sesama.

    "Cintanya Gus Dur itu ke sesama, itu yang menjadi Gus Dur memberikan perlindungan, memberikan payung, jangan sampai di kemudian ada kerusakan terhadap kelompok dan golongan tertentu," kata dia.

    Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menceritakan tentang pesan yang pernah disampaikan oleh Gus Dur pada dirinya, yaitu agar saat meninggal nantinya di makamnya diberi tulisan "Here rests a humanist" yang artinya, "Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan".

    Khofifah mengaku, sempat tidak berani menyampaikan pesan Gus Dur tersebut ke istri almarhum, Nyai Sinta Nuriyah, namun akhirnya ia berani. Dan, amanat tersebut akhirnya bisa diwujudkan oleh keluarga setelah hampir sewindu Gus Dur wafat dan dimakamkan di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

    "Ada wasiat yang saya tidak berani 'matur' ke Bu Nyai Sinta Nuriyah. Waktu itu saya menyampaikan testimoni di sebelah makamnya Gus Dur, dan tiga tahun lalu saya menyampaikan, bahwa tiga kali sebelum wafat, beliau (almarhum Gus Dur) sampaikan 'Mbak, kalau nanti saya meninggal tolong di batu nisan ditulisi 'Here rests a humanist' dan alhamdulillah setahun terakhir di batu nisan ditulis," katanya.

    Khofifah juga mengaku kagum dengan sosok Gus Dur. Semasa hidup dan memimpin PKB, Gus Dur selalu mengajarkan untuk membela yang benar. Ajaran itu juga selalu dipegangnya hingga kini. Namun, ia mengakui apa yang menjadi pikiran dari almarhum, belum semua memahaminya.

    Salah satu cara untuk menyampaikan pemikiran Gus Dur saat itu, dengan memberikan penjelasan pada masyarakat lewat berbagai forum. Walaupun sudah meninggal, pemikiran almarhum baik untuk dijadikan salah satu acuan.

    Selain selalu memerhatikan masyarakat di sekitarnya, Gus Dur juga sosok yang sangat hati-hati. Dicontohkan, ketika mengambil kebijakan calon direktur utama sebuah BUMN, Gus Dur memerintahkan pada santrinya untuk mengecek calon bersangkutan.

    "Ketika Gus Dur menentukan direktur utama BUMN tertentu, ia meminta tolong untuk cek alamat dan nomor. Kalau hari ini ada referensi dari KPK, PPATK, Gus Dur menugaskan santrinya untuk cek, orang ini seperti apa, karena akan menjadi kelengkapan dalam mengambil pertimbangan, apakah orang ini memiliki integritas moral untuk menduduki pos tertentu," kata Khofifah yang bakal maju menjadi calon gubernur Jawa Timur itu.

    Baca juga: Pesan Gus Dur untuk Khofifah dan Perempuan Kartini

    Dalam acara tersebut, selain dihadiri Mensos Khofifah Indar Parawansa, juga dihadiri Mahfud MD (mantan Menteri Pertahanan dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Rizal Ramli (mantan Menko Ekuin). Mereka semua adalah mantan menteri di kabinet Persatuan Nasional yang kala itu dipimpin oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid.

    Selain itu, hadir pula keluarga Gus Dur, Pengasuh PP Tebuireng, Kabupaten Jombang, serta ribuan warga dari berbagai daerah. Acara dimulai dengan membaca tahlil bersama dilanjutkan dengan sambutan dan doa bersama.

    Sebelumnya, sejumlah kegiatan telah digelar dalam rangkaian peringatan Haul Ke-8 Gus Dur tersebut, seperti selawatan dari Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) Jombang, hataman Al-Quran, serta pementasan jamaah 'seribu rebana' yang dipimpin KH Nurhadi alias Mbah Bolong. Kegiatan tersebut juga berlangsung dengan lancar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.