Peringati 13 Tahun Tsunami Aceh, Warga Padati Kuburan Massal

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berdoa di kuburan massal Ulee Lheu Banda Aceh, 26 Desember 2016. Memperingati 12 tahun peristiwa tsunami Aceh, masyarakat Aceh melakukan ziarah di makam korban tsunami dan berdoa serta menggelar kenduri adat. TEMPO/Adi Warsidi

    Warga berdoa di kuburan massal Ulee Lheu Banda Aceh, 26 Desember 2016. Memperingati 12 tahun peristiwa tsunami Aceh, masyarakat Aceh melakukan ziarah di makam korban tsunami dan berdoa serta menggelar kenduri adat. TEMPO/Adi Warsidi

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Satu per satu warga berdatangan ke kuburan massal tsunami Ulee Lheu, Banda Aceh, sejak pagi hari ini. Sebuah tenda terpasang di sana untuk menampung ratusan warga yang menggelar doa bersama dalam peringatan 13 tahun peristiwa gempa dan tsunami Aceh pada 2004.

    Seusai doa bersama yang difasilitasi Pemerintah Kota Banda Aceh, warga masih terus berdatangan. Mereka memilih tempat di hamparan rumput dalam kompleks kuburan massal seluas 15.800 meter persegi itu. Tanpa nisan, hanya beberapa batu hitam yang terdapat di sana. Sebagian warga ikut menabur bunga di sana.

    “Saya telah datang sejak pagi, mendoakan anak saya yang menjadi korban tsunami 13 tahun lalu,” kata Khairul, warga yang datang bersama istri dan anaknya, di lokasi, Selasa, 26 Desember 2017.

    Baca: Tema Peringatan 13 Tahun Tsunami Aceh: Melawan Lupa Siaga Bencana

    Khairul kehilangan satu anaknya saat tsunami datang. Setiap tahun, dia berdoa di sana untuk mengenang almarhum. Kendati tak tahu persis di mana makam anaknya, ia tetap rutin datang ke kuburan massal tersebut. “Tapi saya yakin anak saya dikuburkan di sini,” ucapnya.

    Sama halnya dengan Syukur, 32 tahun, warga yang dulunya tinggal di Ulee Lheu. Ia mengunjungi kuburan untuk mendoakan ibu dan tiga adiknya yang menjadi korban tsunami. “Saya selalu mendoakan mereka," ujarnya.

    Syukur mengakui, pada awal kejadian tsunami itu, ia sangat merasa kehilangan ibunya. Seluruh harta dan rumahnya juga tersapu air laut.

    Baca: Wartawan Aceh Kirim Doa untuk 22 Rekan Korban Tsunami

    Kini dia tinggal di perumahan bantuan di kawasan Neuhen, Aceh Besar. “Sekarang saya sudah menerima kenyataan tsunami lalu. Tapi doa untuk orang tua dan saudara tak boleh putus,” tutur Syukur.

    Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, yang ikut berdoa bersama warga, menuturkan tsunami 13 lalu adalah cobaan bagi masyarakat Aceh, khususnya Banda Aceh. Ibu kota Provinsi Aceh itu telah lama bangkit dan terus berkembang untuk membangun kembali. “Bencana dapat menjadi pelajaran dan kita selalu lebih siaga ke depan,” katanya.

    Selain di Ulee Lheu, kuburan massal korban tsunami lain yang banyak dikunjungi warga adalah di Siron dan Lhok Nga, Aceh Besar.

    Bersamaan dengan peringatan 13 tahun tsunami Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) membunyikan alat sirene tsunami untuk uji dan pengecekan rutin. Alat itu dibunyikan tepat pukul 10.00 WIB pada enam lokasi tower, yakni Gampong Kajhu, Aceh Besar; Lhok Nga, Aceh Besar; Gampong Lam Awe, Aceh Besar; depan kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh; Gampong Lampulo, Banda Aceh; dan Gampong Blang Oi, Banda Aceh. Terkait dengan uji sirene tsunami tersebut, telah dilakukan sosialisasi sepekan sebelumnya agar masyarakat tidak panik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.