Minggu, 22 September 2019

Kisah Jokowi Muda, Jomblo yang Gemar Naik Gunung

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (tengah) berfoto dengan teman satu angkatan semasa kuliah saat acara reuni Fakultas Kehutanan UGM di Fakultas Kehutanan UGM, Sleman, DI Yogyakarta, 19 Desember 2017. Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi bertemu dengan dosen dan teman semasa belajar di UGM. ANTARA

    Presiden Jokowi (tengah) berfoto dengan teman satu angkatan semasa kuliah saat acara reuni Fakultas Kehutanan UGM di Fakultas Kehutanan UGM, Sleman, DI Yogyakarta, 19 Desember 2017. Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi bertemu dengan dosen dan teman semasa belajar di UGM. ANTARA

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Semasa masih mahasiswa di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Presiden Joko Widodo atau Jokowi pun ternyata tak luput dari tradisi olok-olokan atau bahan ejekan teman sekampusnya "Beliau itu sejak mahasiswa bicaranya sudah seperti orang tua, menasehati, jadi sering dibilang teman-temannya saat itu, 'Jok, koyok wong tuwo wae koe' (Jok, seperti orang tua saja kamu)," ujar teman satu angkatan Jokowi, Bambang Supriyambodo di sela kunjungan Jokowi ke UGM Selasa 19 Desember 2017.

    Meski sering diledek 'sok tua' semasa mahasiswa, menurut Bambang teman temannya jadi tahu jika gaya sok tua Jokowi kala itu karena terbawa kebiasaannya sebagai putra sulung di keluarganya. "Jadi di kelompok kami, malah beliau jadi kayak yang ngemong (mengayomi)," ujar Bambang. Saat mendaki gunung misalnya, yang hampir dilakukan Jokowi dan rekan seangkatannya tiap akhir pekan, Jokowi lah yang rajin mengingatkan rekannya agar tak merusak lingkungan gunung.

    Baca juga: Jokowi Cerita Nasib Tukang Pos sampai Kamera Analog di UGM

    Misalnya Jokowi menentang keras kalau ada rekannya yang hendak memetik bunga edelweis untuk dibawa pulang sebagai hiasan. "Saya paling ingat, kalau ada yang mau metik edelweis beliau selalu bilang, 'Nikmati saja edelweisnya, ngga usah dipetik, wong paling kalau dipetik cuma jadi hiasan dan dibuang, biarin tetap indah di gunung saja'," ujar Bambang.

    Meski sering diolok sok tua, Bambang mengatakan Jokowi juga nyalinya besar. Misalnya saat naik ekspedisi ke Gunung Kerinci yang medannya berpasir, Jokowi dan rekannya turun gunung itu dengan cara seperti orang berseluncur karena memang tak bisa dipakai jalan kaki biasa. "Seru sekali saat itu, meski sarung tangan kami semua habis karena ngerem," ujar Bambang.

    Bambang yang berprofesi sebagai salah satu Dewan Komisaris di PT. Pupuk Kaltim itu juga ingat bagaimana Jokowi dan rekan seangkatannya ulet hanya demi memuaskan hasrat naik gunung tiap akhir pekan. "Karena dulu tas gunung mahal, beliau mengajak kami bikin tas gunung sendiri, pakai pipa pipa terus dijahit," ujarnya.

    Baca juga: Di UGM, Jokowi: Saya Ingat Saat Gondrong dan Bercelana Cut Bray

    Jokowi dan anak kehutanan seangkatannya gemar naik gunung tiap akhir pekan karena memang hampir tak ada yang berpacaran saat kuliah. Fakultas Kehutanan UGM saat itu memiliki 80 mahasiswa laki laki dan hanya delapan orang perempuan. "Hiburannya saat itu ya cuma naik gunung, wong semua termasuk pak Jokowi jomblo," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.