Menag Lukman Hakim: AM Fatwa adalah Pejuang yang Konsisten

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenazah AM Fatwa dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 14 Desember 2017. TEMPO/Maria Fransisca.

    Jenazah AM Fatwa dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 14 Desember 2017. TEMPO/Maria Fransisca.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ikut mengunjungi rumah duka anggota Dewan Perwakilan Daerah dari DKI Jakarta, Andi Mappetahang Fatwa atau AM Fatwa, yang meninggal pada Kamis, 14 Desember 2017. Lukman menyebut AM Fatwa sebagai figur pejuang yang konsisten.

    Lukman mengaku mengenal almarhum pada 1999, saat sama-sama menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Di MPR, kata Lukman, Fatwa selalu hadir dalam sidang tahunan dan mengikuti proses perubahan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945.

    Baca: Cerita Perlawanan AM Fatwa dalam Tragedi Tanjung Priok 1984

    “Sangat kentara terlihat bahwa konsistensi, keistikamahan, kejujuran, kebersihan, dan keberanian almarhum sungguh luar biasa,” ucap Lukman pada Kamis.

    Lukman berujar, Fatwa tidak hanya seorang ayah, kakak, atau saudara yang baik, tapi juga pejuang. Menurut dia, Fatwa telah berjuang bertahun-tahun serta telah memberikan yang terbaik untuk agamanya dan bangsa Indonesia.

    Baca: Kenangan Masa Kecil Anies Baswedan bersama AM Fatwa

    Bukti perjuangan AM Fatwa terlihat dari keterlibatannya dalam pelengseran Presiden Soeharto pada era Orde Baru. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi.

    Selain itu, nama AM Fatwa tercatat sebagai salah satu penanda tangan Petisi 50 yang mengeluarkan Lembaran Putih tentang peristiwa Tanjung Priok. Akibatnya, dia harus menghabiskan 12 tahun di penjara. “Perjuangan beliau adalah perjuangan yang sangat panjang,” tutur Lukman.

    RIANI SANUSI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kepolisian Menetapkan Empat Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla

    Kepolisian sudah menetapkan 185 orang dan empat perusahaan sebagai tersangka karena diduga terlibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.