KPK Minta Terdakwa E-KTP Tak Jadikan Sakit sebagai Alasan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara KPK Febri Diansyah, memberikan keterangan kepada awak media, di gedung KPK, Jakarta, 17 November 2017. Penahanan kepada Setya Novanto ini untuk menjalani pemeriksaan terkait tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan secara nasional. TEMPO/Imam Sukamto

    Juru bicara KPK Febri Diansyah, memberikan keterangan kepada awak media, di gedung KPK, Jakarta, 17 November 2017. Penahanan kepada Setya Novanto ini untuk menjalani pemeriksaan terkait tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan secara nasional. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta para terdakwa dan saksi dalam kasus korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP tak menjadikan alasan sakit untuk menghindari atau menunda proses hukum. Sebab, ada risiko bagi pihak yang menghambat proses hukum.

    "Jika ada pihak-pihak yang merekayasa kondisi apalagi membantu seseorang menghindari atau bahkan menghambat proses hukum, tentu ada risiko pidananya," kata Febri pada Kamis, 14 Desember 2017.

    Baca: KPK: Jangan Hambat Penanganan Perkara E-KTP

    Febri berharap apa yang terjadi sejak pertengahan November dan kemarin dapat jadi pembelajaran bagi semua pihak agar tak menghambat proses hukum. Kejadian yang dimaksud Febri berkaitan dengan proses hukum yang dijalani terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto, mulai dari proses pemanggilan, pemeriksaan hingga pengadilan.

    Pernyataan Febri ini juga untuk menanggapi berjalannya sidang perdana pokok perkara terdakwa Setya Novanto sehubungan kasus proyek e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Rabu, 13 Desember 2017. Dalam sidang itu, Setya beberapa kali bungkam dan tak menjawab pertanyaan hakim. Setya pun mengaku irit bicara lantaran kurang istirahat. Setya juga mengklaim sedang diare dan bolak-balik toilet 20 kali.

    Baca: Jaksa KPK Sudah Prediksi Skenario Sakit Setya Novanto di Sidang

    Menurut Setya, dokter di tahanan KPK tak memberikan obat. Namun, jaksa KPK membantahnya dan bilang bahwa Setya hanya batuk.

    Febri memastikan, Setya telah diperiksa terlebih dahulu sebelum diberangkatkan ke pengadilan. Menurut dokter, Setya layak mengikuti persidangan bila melihat kondisi kesehatannya.

    Menurut Febri, hasil pemeriksaan yang objektif akan memperlihatkan apakah kondisi kesehatan Setya benar-benar terganggu. "Dan tindakan medis lanjutan dapat dilakukan," kata dia.

    Selain itu, Febri berterima kasih kepada tim dokter dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang telah bekerja sama dengan KPK. Dukungan pelbagai pihak memang diperlukan KPK saat ini untuk memberantas korupsi. Tak terkecuali dukungan dari kalangan medis yang bekerja independen dan profesional.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.